RENUNGAN INSPIRASI
Simei bin Gera adalah seorang dari anggota keluarga Saul. Ketika Daud melarikan diri dari Yerusalem karena pemberontakan Absalom dan tiba di Bahurim, Simei mengutuki Daud sambil melemparinya dengan batu. Tidak hanya itu, Simei bahkan mengatakan bahwa kemalangan Daud adalah balasan Tuhan atas segala pertumpahan darah yang telah dilakukannya. Terlepas dari tindakan Simei tersebut, Daud tetap menunjukkan kesabaran dan tidak membalas dengan kekerasan atau emosi. Bahkan ketika Abisai–salah seorang pengikut Daud–merasa gerah dan meminta ijin untuk memenggal kepala Simei karena perlakuannya yang dinilai melewati batas, Daud masih tetap bersabar dan memerintahkan Abisai untuk membiarkan Simei.
Dari Daud kita paham bahwa "sabar" bukan sekadar kemampuan untuk menahan amarah saja, namun juga kemampuan untuk tetap mempertahankan sikap yang baik dalam situasi dimana seseorang tampaknya wajar untuk marah. Dari kisah ini, hendaknya kita meneladani penguasaan diri Daud dengan terus berusaha mempertahankan sikap yang baik apapun situasinya. Interaksi kita dengan sesama setiap harinya dapat menimbulkan gesekan dan ketika gesekan itu muncul, maka kita bisa saja menerima perlakuan tidak menyenangkan dari orang lain. Disinilah peran penguasaan diri menjadi sangat penting. Kolose 3:13 mengajarkan kita untuk bersabar dan mengampuni orang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kita, maka perbuat jugalah demikian. Bersabar bukanlah hal yang mudah, apalagi tetap bersikap baik di saat semua orang dapat memaklumi jika kita marah. Namun jangan jadikan pemakluman itu alasan untuk kehilangan kesabaran, teruslah berusaha untuk menguasai diri walau dalam situasi yang sulit agar melalui sikap baik kita nama Tuhan dipermuliakan. [EV]