Tuhan telah memberikan kemenangan dalam pertempuran Israel atas pasukan Sisera. Di dalam lagu kemenangan Debora dan Barak dalam Hakim-hakim 5, mereka memuji suku-suku dan juga individu yang telah terlibat serta menanggapi pertempuran ini dengan berani. Namun, ada satu kota yang tidak dirayakanâbahkan dikutuk, yaitu Kota Meros. Lokasi Meros kemungkinan berada di dekat medan perang. Mereka diharapkan terlibat, tetapi nyatanya mereka sama sekali tidak memberi bantuan sebagai pahlawan yang berjuang untuk Tuhan. Itu sebabnya Malaikat Tuhan mengutuki kota serta penduduk Meros habis-habisan. Ini menunjukkan kepada kita ketidaksenangan Allah terhadap kenetralan dan ketidakpedulian mereka.
Melalui kisah ini, kita diingatkan bahwa ketika Tuhan sedang bergerak, kenetralan bukanlah pilihan. Menolak untuk terlibat dalam tujuan Tuhanâketika kita memiliki kesempatanâberarti menentang-Nya, meskipun secara pasif. Kenetralan mungkin tampak seperti pilihan yang damai dan aman, tetapi ketika kita tahu hal yang benar untuk dilakukan dan memilih kenyamanan daripada keyakinan, kita tidaklah netral, kita sebenarnya sedang tidak mematuhi Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, Tuhan mungkin tidak meminta kita untuk mengangkat pedang seperti yang dilakukan Israel, tetapi Ia tetap memanggil kita untuk mengambil sikap di tengah-tengah ketidakadilan, kebohongan, atau dalam kesusahan seseorang, seperti yang dilakukan oleh orang Samaria yang baik hati. Cobalah periksa, di bagian mana dalam hidup kita, kita memilih netral dan tidak melakukan apa-apa, daripada ketaatan kepada Tuhan. Jangan seperti Meros, tetapi jadilah seperti orang-orang yang disebut dalam Hakim-hakim 5, sebagai orang yang menyerahkan diri kepada Tuhan dengan sukarela (ay. 2,9). [LS]