Seberapa sering Anda diperhadapkan dengan situasi yang tampak mustahil, yaitu saat semua kemungkinan manusiawi terasa tidak mungkin, saat jalan keluar tidak terlihat, dan saat kekuatan kita seolah sudah habis? Seperti bangsa Israel yang terjebak di antara Laut Merah dan tentara Mesir yang mengejar mereka, mereka pun sangat ketakutan, berseru-seru kepada Tuhan, dan menyalahkan Musa. Saat masalah seakan datang dari segala arah, reaksi alami kita adalah panik, cemas, atau menyalahkan keadaan dan orang lain. Kita tidak bisa diam, meronta, dan berusaha keras seakan-akan kita sedang menghadapi semuanya sendirian.
Keluaran 14 menunjukkan bangsa Israel pada situasi yang tampak mustahil. Dalam situasi tersebut, Musa berkata kepada bangsa itu agar tidak takut, berdiri tegap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN (Keluaran 14:13-14). Kemudian Tuhan melakukan mukjizat: Dia sendiri yang "berperang" bagi mereka. Dari sini muncul satu kebenaran penting, yaitu ada waktu-waktu di mana diam bukanlah kepasifan atau kelemahan, melainkan tindakan iman. Bukan karena Tuhan ingin kita pasif, menyerah, dan tidak berbuat apa-apa, melainkan karena ada saatnya kita harus berhenti mengandalkan kekuatan sendiri, dan percaya sepenuhnya kepada Tuhan. Kita pun melihat setelah "periode diam" tersebut, Tuhan memanggil bangsa itu untuk segera bergerak menyeberangi laut di tanah yang telah kering oleh karena mukjizat yang diperbuat Tuhan (Keluaran 14:15-22). Diam sama dengan mempersiapkan ketaatan di waktu yang tepat. Diam berarti menyerahkan kendali kepada tangan Tuhan; tidak panik melainkan percaya Tuhan sedang bekerja; tidak mengandalkan kekuatan sendiri melainkan berserah penuh kepada kuasa-Nya. Diam adalah tindakan iman ketika kita tahu bahwa Tuhan menguasai segala hal, bahkan ketika logika berkata mustahil. Keluaran 14:14 menyatakan bahwa Tuhan akan berperang bagi kita, bahkan ketika kita merasa sama sekali tak berdaya. Ketika kita menyerahkan situasi kita ke dalam tangan-Nya, kita akan melihat bagaimana Tuhan akan membuka jalan yang tak pernah kita bayangkan seperti Ia membelah Laut Merah bagi umat-Nya. [FD, LS]