Pria India bernama Nokseng yang menerima Yesus setelah diinjili membawa dampak besar bagi lingkungannya, sehingga banyak keluarga lain mengikuti jejaknya. Mendengar hal ini, kepala suku yang marah mengadili Nokseng dan keluarganya di hadapan masyarakat. Dalam ancaman kematian, Nokseng dengan teguh berkata, "I have decided to follow Jesus. No turning back." Saat anak-anaknya dibunuh, iman Nokseng tetap teguh. Saat istrinya diancam, ia berkata, "Though none go with me, still I will follow. No turning back." Istrinya pun dibunuh. Di kesempatan terakhir untuk hidup jika ia meninggalkan imannya, Nokseng berkata, "The cross before me, the world behind me. No turning back. No turning back." Lalu Nokseng pun dibunuh.
Menjadi murid Yesus tak selalu mudah. Yesus pernah menyampaikan panggilan yang sangat serius dalam mengikut Dia. Pertama, seorang murid harus menyangkal dirinya. Ini adalah cara supaya kita sepenuhnya berserah pada kehendak, tuntunan, dan otoritas Tuhan. Mungkin ada saat kita ditantang dalam hal mengampuni, mengalah, memberi, melayani; dan kita harus siap untuk hidup dalam ketaatan akan firman Tuhan, kendati hal-hal tersebut mengorbankan kenyamanan, ego, dan kesenangan kita. Kedua, seorang murid memikul salibnya setiap hari. Dalam konteks pendengar saat itu, frasa "memikul salib" berarti menuju kematian. Dalam budaya Romawi, salib adalah lambang hukuman paling memalukan, alat eksekusi paling kejam dan hina, yang dijatuhkan bagi para penjahat berat, budak, atau pemberontak politik. Maka, saat Yesus berkata "memikul salibnya setiap hari", para murid tahu ini pasti tidak mudah. Kita harus siap dihina, dipermalukan, direndahkan, bahkan rela mati karena iman kita. Kita harus rela meninggalkan hak atas hidup kita karena cinta yang mendalam kepada Yesus. Ketiga, seorang murid harus mengikut Yesus. Kata "mengikut" disini dalam bahasa Yunani berarti "bergabung dengan seseorang sebagai murid". Ini menunjukkan komitmen dan konsistensi. Kita mengikuti apa pun yang telah dilakukan oleh Yesus dalam hal karakter, kerendahan hati, dan teladan-Nya. Walau perjalanan hidup seorang murid tidak mudah, tetapi kita akan berjalan dan melakukannya bersama-sama, seperti memikul kuk bersama dengan Yesus. Semua ini harus kita lakukan dalam komitmen seumur hidup kita. Inilah harga yang sesungguhnya, siapkah kita menjadi murid Yesus? [RS]