Visi gereja NDC untuk menjadikan setiap jemaat murid Yesus tidak berhenti di tembok gereja, melainkan diwujudkan secara relevan dalam konteks hidup jemaat masing-masing. Sebab kenyataannya, tidak sedikit dari kita adalah pekerja "nine to five". Bila jam kerja normal adalah 8 jam per hari, berarti hampir setengah dari total waktu kita membuka mata ada di kantor. Sebegitu signifikannya waktu yang terserap di kantor, sudah seharusnya kita menyadari betapa besar pengaruh tempat kerja terhadap perubahan karakter, pembentukan nilai, serta tujuan hidup orang-orang di dalamnya. Karena itu bagi banyak orang Kristen, Tuhan menetapkan kantor atau tempat kerja lainnya sebagai ladang misi utama mereka, baik terhadap klien, karyawan, sesama rekan kerja, bahkan atasan.
Karena kantor adalah ladang misi, maka apapun posisinya, kita perlu memiliki kesadaran bahwa Tuhan sendiri adalah atasan kita. Dalam hubungan kerja antara hamba dan tuan – yang dalam konteks modern adalah karyawan dan atasan – Rasul Paulus mengulang kata "Tuhan" hingga enam kali di setiap ayatnya: "takut akan Tuhan" (ay. 22); "perbuatlah segenap hati seperti untuk Tuhan" (ay. 23); "dari Tuhan kamu menerima upah" (ay. 24); "Kristus adalah tuan (B. Yun: kurios = Lord)" (ay. 24); "Tuhan tidak memandang orang" (ay. 25); dan "kamu juga mempunyai tuan di sorga" (Kol. 4:1). Kesadaran kita tentang siapa pemimpin tertinggi kita di kantor, seharusnya mengubah cara kita berucap dan bertindak di tempat kerja. Mungkin rekan kita tidak pernah masuk gereja atau membaca Alkitab, tetapi mereka bisa "membaca" Yesus melalui hidup kita sehari-hari. Kitalah yang seharusnya menjadi "kabar baik" sebelum menyampaikan "Kabar Baik". Prinsip kerja seperti ini sudah terlebih dahulu dilakukan oleh Yusuf, mulai dari di rumah Potifar hingga di istana kerajaan Mesir. Yusuf setia dan berintegritas. Juga oleh Daniel, sejak di bawah pemerintahan Nebukadnezar, Belsyazar, Darius, hingga Koresh. Daniel teguh dalam iman sehingga disegani raja-raja kafir. Mereka tidak berkhotbah di mimbar, tetapi hasil kerja serta sikap hidup mereka menjadi kesaksian yang kuat tentang Allah yang mereka sembah. Karena itu, tantangan kita hari ini adalah memandang kantor bukan sekadar tempat memperoleh gaji, tetapi ladang misi bagi seorang murid Yesus. Setiap rekan kerja adalah jiwa yang perlu kita doakan, setiap tugas adalah kesempatan untuk menyatakan integritas, dan setiap interaksi adalah peluang untuk menyalurkan kasih Kristus. Dengan cara ini, kantor menjadi wadah pelayanan yang berbuah kekal. [LS]