Pergaulan dan pertemanan di masa modern kini tampaknya telah mengalami pergeseran nilai. Jika dahulu pertemanan melibatkan partisipasi dan pengorbanan aktif dari masing-masing pihak, kini orang berteman jika ada untungnya saja. Karena itu hubungan pertemanan saat ini menjadi satu hubungan sosial yang sulit langgeng, karena orang-orang mudah datang dan pergi begitu saja.
Hari ini kita belajar pertemanan yang sejati dari Yesus. Pertemanan ini bukan lahir dari usaha manusia, melainkan inisiatif kasih-Nya. Yesus berkata, "Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawa bagi sahabat-sahabatnya." (Yoh. 15:13), dan Ia telah membuktikannya dengan mati bagi kita. Ia bahkan tidak lagi menyebut kita hamba, melainkan sahabat (Yoh. 15:15). Inilah teladan pertemanan yang sejati – kasih yang diwujudkan dalam pengorbanan. Karena pertemanan yang sejati bukan hanya tentang berbagi tawa di saat senang, tetapi juga bagaimana setiap pihak di dalamnya saling memberi diri dan saling membangun. Kita juga dapat melihat bagaimana Daud dan Yonatan mengikat perjanjian serta saling berkorban untuk satu sama lain (1 Sam. 18:1-3). Selain mereka, kita juga melihat bagaimana Rut mengikat perjanjian dan mengorbankan kenyamanannya untuk hidup bersama Naomi (Rut 1:16-17). Tidak ada pertemanan yang selalu berjalan mulus, di dalamnya pasti ada duka, gesekan, dan perbedaan pendapat. Karena itu, kita perlu mengandalkan kasih Allah dan menyalurkannya kepada setiap teman kita. Jadi, jangan lagi membangun hubungan pertemanan berdasarkan untung rugi semata, tetapi marilah membangunnya di atas kasih Allah. Salurkan kasih Allah kepada teman-teman kita dengan cara rela berkorban, agar mereka juga dapat bertumbuh di dalam Tuhan. Sehingga kita bisa bersama-sama menjaga hubungan yang harmonis di dalam Tuhan dan mengalami pertumbuhan pribadi. [JW]