Di dunia yang semakin individualistis, sikap memperhatikan sesama semakin jarang ditemui. Atau mungkin kita perhatian, tetapi seringnya kita hanya perhatian kepada orang-orang tertentu saja. Coba perhatikan, kepada siapa kita paling sering berbuat baik? Tanpa sadar, kita cenderung memperlakukan orang yang "penting" dengan lebih baik, apalagi dengan kemungkinan mendapat balasan dari mereka. Kita memberi, namun sambil mengharapkan sesuatu. Kita peduli, tetapi hanya kepada mereka yang bisa menguntungkan kita.
Dalam bacaan firman Tuhan hari ini, Yesus dengan tegas memberi peringatan agar kita lebih peduli dan memperhatikan orang-orang yang terlupakan, yaitu orang-orang miskin, lemah, disabilitas, tertindas, dan tersisih. Ini artinya, salah satu cara menjadi orang percaya yang berdampak adalah dengan memperhatikan "orang-orang yang terlupakan". Sebab, di ayat selanjutnya dikatakan ketika kita memperhatikan mereka, kita akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepada kita. Hari ini coba pikirkan, siapa orang-orang terlupakan di sekitar kita. Mereka mungkin adalah orang-orang tua yang kesepian, orang-orang yang dipandang sebelah mata oleh dunia, anak-anak jalanan, teman kita yang sakit, orang-orang yang berkekurangan dan membutuhkan. Sebagai murid Kristus, kita dipanggil untuk hidup dalam kasih yang aktif. Tak cukup hanya dengan merasa iba, tetapi juga menunjukkan aksi yang didorong oleh rasa iba tersebut. Seperti Yesus, yang hati-Nya selalu tergerak belas kasihan, sehingga terdorong melakukan sesuatu saat melihat penderitaan orang lain. Maka, kita pun harus bertindak. Melalui perhatian, pemberian dana atau pelayanan diakonia, pemberian pakaian, makanan, perhatian, dan kasih. Melalui tindakan ini, kita tak hanya memberi bantuan, tetapi juga menyatakan bahwa mereka tidak dilupakan oleh Tuhan. Percayalah, dalam setiap bantuan yang kita berikan, kita sedang menyentuh hati mereka dengan kasih Tuhan. Dengan demikianlah terang kita bercahaya dalam hidup mereka. [RS]