Restoran "all you can eat" menerapkan kebebasan memilih dan mengambil makanan. Namun jika kita ambil semua makanan tanpa memikirkan kapasitas perut, faktor kesehatan, dan makanan tersisa yang akhirnya harus dibuang; hasilnya kita akan begah, mual, dan pada saat yang sama menyia-nyiakan berkat Tuhan. Sekali pun kita bebas mengambil semua jenis makanan, tetapi hanya yang sehat dan seimbang yang benar-benar berguna bagi tubuh kita.
Dalam hidup ini, kita pun sering dihadapkan dengan pilihan-pilihan yang kelihatannya "boleh". Tetapi firman Tuhan mengingatkan bahwa tidak semua yang "boleh" itu berguna dan membangun. Rasul Paulus mengingatkan jemaat Korintus bahwa kebebasan Kristen bukanlah kebebasan tanpa batas, sebab yang "boleh" belum tentu berguna dan membangun. Paulus mengingatkan dua ketentuan terkait kebebasan kita. Pertama, berbuatlah menurut ukuran iman dan hati nuranimu di hadapan Tuhan. Jika ada rasa ragu atau rasa bersalah dalam hati, lebih baik tidak dilakukan. Ketentuan kedua adalah ketentuan di atas ketentuan pertama, yaitu pakailah kebebasanmu demi kebaikan orang lain; jangan sampai jadi batu sandungan. Jadi, sekali pun suatu hal halal di pandangan kita, namun jika hal tersebut membuat orang lain tersandung atau cenderung membuat salah paham, kebijaksanaan kasih menuntut kita untuk menahan diri melakukannya, seperti yang Rasul Paulus katakan, "Jangan seorangpun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain." Kita harus selalu ingat, bahwa kebebasan kita sebagai anak Tuhan harus dipakai dengan hikmat dan kasih, bukan hanya demi diri sendiri, melainkan juga demi orang lain untuk kemuliaan Tuhan. Karena itu, sebelum melakukan sesuatu, uji manfaatnya â apakah membawa manfaat rohani, menambah nilai bagi sesama, meningkatkan pertumbuhan iman; atau justru melemahkan, merusak diri, dan menjadi batu sandungan bagi orang lain. [LS]