Salah satu substansi dari visi gereja NDC adalah relevan, yaitu bagaimana kita dapat mengajar dan membimbing orang-orang dalam mengikut Yesus; dengan cara-cara yang mudah dipahami, kontekstual dengan perkembangan zaman, dan dapat menjawab kebutuhan atas persoalan yang ada.
Bagi kita selaku orang percaya, menjadi relevan merupakan tantangan tersendiri di tengah dunia yang cepat berubah, sekaligus kompetitif. Bagaimana tidak, kompetisi menuntut pencapaian, performa, bahkan pencitraan. Dalam atmosfer seperti ini, kesenjangan antar manusia semakin nyata, akhirnya upaya untuk menjadi relevan terhadap orang-orang yang seharusnya kita jangkau dan layani menjadi terasa "aneh", "tidak nyambung", dan "tidak tepat sasaran". Contoh, seseorang punya pengetahuan, jabatan, bahkan pelayanan tertentu, tetapi sikap, perkataan, dan tindakannya tidak menyentuh hati dan kehidupan orang-orang di sekitarnya. Jika kita serius mau menjadi pribadi yang relevan demi menuntun orang-orang kepada Kristus, kita tidak bisa hanya bermain di area teori, kita perlu membangun "jembatan" yang dinamakan kerendahan hati. Yesus menjadi teladan utama dari relevansi yang sejati. Untuk menjadi relevan dengan manusia, Ia mengambil rupa manusia melalui kenosis (pengosongan diri). Di dalam pelayanan-Nya, Yesus menggunakan bahasa yang mudah dimengerti, Ia menggunakan perumpamaan yang familiar dalam kehidupan sehari-hari. Kehadiran-Nya menyentuh berbagai lapisan–makan bersama pemungut cukai, menyapa orang berdosa, menguatkan yang putus asa. Paulus andal dalam meneladani Yesus, ia berkata, "Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang." Paulus bertujuan memenangkan orang-orang bagi Kristus dengan cara yang relevan, yaitu "menjadikan diri hamba dari semua orang". Maksudnya, ia mau menggunakan kebebasannya untuk mengidentifikasi diri seperti orang-orang yang hendak ia menangkan – tanpa mengesampingkan kebenaran Injil. Dengan cara itulah Paulus dapat lebih peka terhadap kebutuhan orang lain, dan akhirnya memenangkan sebanyak mungkin jiwa. Karena itu, ingatlah selalu bahwa menjadi relevan bukan sekadar menyampaikan kata-kata benar yang terdengar spektakuler namun terasa jauh dari realita hidup orang. Relevansi sejati adalah ketika kita dengan rendah hati mau hadir dalam kehidupan orang lain, mendengar dan melihat dari perspektif mereka, menyampaikan kebenaran dalam bahasa yang mudah dimengerti, bahkan melalui pengorbanan. Itulah kedalaman relevansi—saat kasih Allah tidak berhenti di kata-kata, melainkan mengalir lewat hidup kita, sehingga orang lain benar-benar merasakan dan mengenal Dia. [LS]