Di era digital saat ini, kita hidup dalam dunia yang berlimpah informasi. Media sosial, teknologi, dan budaya populer terus membentuk cara berpikir dan bertindak kita. Ada banyak orang yang lebih terhubung dengan tren viral daripada dengan nilai-nilai kekal kebenaran, mereka lebih tertarik media sosial daripada membaca Alkitab. Firman Tuhan, gereja, dan kerohanian menjadi sesuatu yang "asing dan kuno". Kondisi demikian menjadi tantangan tersendiri bagi kita umat Tuhan untuk menyampaikan Injil dengan relevan, khususnya bagi generasi muda.
Sekali waktu Rasul Paulus berada di Atena, kota yang penuh dengan patung berhala. Masyarakat Atena sendiri sangat religius namun tidak mengenal Allah yang sejati. Mereka memiliki banyak barang pujaan, salah satunya mezbah untuk "Allah yang tidak dikenal". Namun, saat Paulus berbicara di sana, ia tidak menghakimi dan memaksakan kebenaran untuk diberitakan. Sebaliknya, ia mengadakan pendekatan, berbicara di pasar setiap hari, bersoaljawab dengan beberapa ahli pikir dari golongan Epikuros dan Stoa. Melalui mezbah yang bertuliskan "Kepada Allah yang tidak dikenal" itu, Paulus pun menjadikannya sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan Allah yang hidup. Hasilnya, beberapa orang menggabungkan diri dengan dia dan menjadi percaya. Pendekatan Paulus ini mengajarkan kita akan pentingnya memahami konteks dan sudut pandang orang lain sebelum menyampaikan Injil, serta kreativitas dalam membangun komunikasi agar Injil diterima dengan lebih terbuka. Gereja dan umat Tuhan harus dapat mengkomunikasikan kebenaran secara kreatif dan relevan, tanpa mengubah esensi dari Injil itu sendiri. Hari ini coba perhatikan orang-orang di sekitar kita, yang belum mengenal Tuhan. Sudahkah kita berupaya menyampaikan kebenaran dan menemukan cara yang tepat dan dapat diterima untuk menjangkau hati mereka? Setiap kita dipanggil untuk memberitakan kebenaran-Nya. Mintalah pimpinan Roh Kudus agar kita menjadi komunikator kebenaran yang penuh kasih dan hikmat. Kita bisa menggunakan hal-hal yang mereka kenal sebagai pintu masuk untuk menyampaikan kebenaran. Bisa melalui media sosial, percakapan sehari-hari, dan pertanyaan-pertanyaan yang menggugah pemikiran. [RS]