Dalam konteks hukum di Indonesia, beberapa peraturan menetapkan usia 18 tahun sebagai batas usia dewasa. Mereka yang berusia 18 tahun ke atas memiliki konsekuensi hukum dan administratif penting dalam berbagai peraturan. Penetapan ini menunjukkan bahwa kedewasaan berkaitan dengan tanggung jawab dan kapasitas seseorang. Namun dalam kenyataannya, ada yang secara hukum sudah dianggap mampu bertanggung jawab, tetapi dalam cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan masih menunjukkan sifat kanak-kanak. Sehingga tak jarang kita melihat hubungan yang rusak karena keegoisan, pelayanan yang dipenuhi drama, atau keputusan yang lahir dari emosi sesaat. Di titik inilah perkataan Paulus sangat relevan, "sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu." Saat Paulus katakan "aku meninggalkan", itu artinya kedewasaan tidak otomatis terjadi karena usia, titel, atau status, melainkan karena seseorang memutuskan untuk tidak hidup dengan pola lama lagi. Kedewasaan merupakan keputusan untuk berubah, bertumbuh, dan memikul tanggung jawab dengan penuh kesadaran di hadapan Tuhan dan sesama.
Di momen tahun baru ini, jangan sampai hanya usia kita yang bertambah. Jika kita rindu melihat tahun 2026 lebih baik dari tahun sebelumnya, perubahan harus dimulai dari dalam diri kita melalui keputusan untuk bertumbuh menjadi pribadi yang dewasa. Ini sangat penting, sebab seperti yang Paulus katakan, kedewasaan pertama-tama akan tercermin dalam perkataan kita. Tidak seperti anak-anak yang berbicara semau dirinya, orang yang dewasa tidak selalu mengatakan semua yang ia pikirkan. Mereka mempertimbangkan dampak dari setiap kata. Kemudian kedewasaan juga mempengaruhi cara kita merasa. Anak-anak belum mampu mengolah perasaan atau emosi mereka. Semua ketidaksenangan, keluhan, dan emosi-emosi negatif mereka luapkan begitu saja. Sedangkan orang dewasa mampu mengenali dan mengolah perasaan atau emosi di dalam diri mereka, sehingga "output"nya bukan ledakan emosi melainkan kesabaran dan penguasaan diri. Hal ini terjadi karena dalam proses menuju kedewasaan, pikiran kita juga terus diperbarui. Kita semakin peka membedakan antara perasaan dan kebenaran, menimbang sebelum merespons, serta melihat hidup dengan perspektif jangka panjang. Kedewasaan menyentuh seluruh bagian hidup kita. Karena itu, tahun yang lebih baik sangat ditentukan oleh pertumbuhan kedewasaan kita. Saat pikiran diperbarui, perkataan ditata, dan emosi dikuasai, hidup bergerak ke arah yang benar. Inilah keputusan yang perlu kita ambil di awal tahun ini, yaitu bukan sekadar bertambah usia, tetapi sungguh-sungguh bertumbuh menjadi pribadi yang dewasa di dalam Tuhan. [LS]