Pertumbuhan rohani bukan diukur dari seberapa banyak kita tahu, melainkan dari seberapa sedikit kita berpusat pada diri sendiri. Selama hidup kita masih digerakkan oleh pengejaran akan pengakuan, pujian, dan pembenaran manusia; pertumbuhan dan kedewasaan rohani akan selalu terhambat. Sebab "sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus", demikianlah kata Rasul Paulus dalam Galatia 1:10. Mengejar pengakuan manusia dan mengikut Kristus adalah dua arah yang berlawanan. Saat seseorang masih haus pengakuan manusia, mereka akan berusaha menyenangkan manusia, dan juga cenderung mudah tersinggung, defensif, dan reaktif ketika tidak dihargai. Inilah yang menghambat pertumbuhan dan kedewasaan rohani.
Sebaliknya, kedewasaan rohani mulai tampak saat seseorang "selesai dengan dirinya sendiri". Mereka yang selesai dengan diri sendiri telah menemukan identitasnya yang sejati, mereka sadar pusat hidupnya telah berubah. Hidup yang lama – yang haus pengakuan, ingin dipuji, dan ingin menjadi pusat perhatian – telah disalibkan bersama Kristus. Hidup yang sekarang dijalani bukan lagi untuk membuktikan diri, melainkan untuk menyatakan Kristus. Yesus menegaskan prinsip ini saat Ia berkata, "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku." Menyangkal diri bukan tindakan sesaat, melainkan keputusan setiap hari. Dalam praktiknya, orang yang selesai dengan diri sendiri terlihat dari caranya bersikap dan merespons. Mereka mampu bersikap dengan tenang, rendah hati, mau mendengar bahkan mengalah, karena mereka sudah tidak berada pada level mempertahankan atau memenangkan diri; nilai dirinya tak lagi ditentukan oleh respons orang lain. Memang untuk sampai di titik "selesai dengan diri sendiri" bukanlah hasil keputusan yang instan, itu adalah proses rohani yang dikerjakan oleh anugerah Allah dan dijalani dalam ketaatan sehari-hari. Karena itu bagi kita, tidak ada jalan pintas selain terus belajar menundukkan ego di bawah kehendak Kristus. Contohnya, tetap ikuti apa kata firman meski sepertinya tidak menguntungkan, tetap lakukan yang terbaik meski tidak pernah diberi kredit, tetap mengasihi sekali pun tak pernah dihargai. Ini tidak mudah, tapi ingat kembali bahwa fokus kita bukan manusia, melainkan Tuhan. Pertumbuhan rohani terjadi saat kita terus belajar mati terhadap diri sendiri, dan menjadikan Kristus pusat hidup kita. [LS]