Apakah Anda tahu, ada pujian dan penyembahan yang terdengar merdu di ruang ibadah, tetapi tidak pernah mencapai hadirat Allah? Inilah kenyataan pahit yang Tuhan sampaikan melalui Nabi Amos, ketika umat-Nya sibuk dengan perayaan, korban, dan musik ibadah; tetapi tidak mempedulikan kondisi hati mereka.
Ketika Allah menolak ibadah Israel, itu bukan karena suara mereka fals, musik mereka jelek, atau persembahan mereka kurang besar. Itu karena ketidakadilan dan ketidakbenaran menjadi gaya hidup mereka. Mereka memuji Tuhan di tempat kudus, tetapi menindas sesama di pasar, di dalam bisnis dan keseharian mereka (Amos 8:5-6). Mereka menyembah dengan bibir, tetapi membohongi dengan timbangan curang. Mereka menyanyi tentang kasih Tuhan, tetapi tidak pernah menyalurkan kasih itu. Di mata Allah, ibadah yang tidak melahirkan keadilan dan kebenaran adalah ibadah yang palsu. Tuhan berkata, "Jauhkan daripada-Ku nyanyian-nyanyian pujianmu, yang hanya merupakan kebisingan di telinga-Ku. Aku tidak akan mendengarkan musikmu, betapapun merdunya." (Amos 5:23 FAYH). Peringatan ini juga berlaku bagi kita agar lebih memperhatikan kualitas ibadah kita. Sebab yang Tuhan inginkan adalah, "biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir." Jujur saja, mudah bagi kita untuk memisahkan ritual keagamaan kita dari cara kita memperlakukan sesama. Tetapi hari ini kita diingatkan bahwa ibadah yang autentik bukan dimulai di panggung, tapi di hati; bukan ditandai dengan suara yang sempurna, tetapi dengan hidup yang lurus; bukan diukur dari seberapa sibuk dan seberapa lama kita berada di gereja, tetapi seberapa nyata cerminan Tuhan mengalir dalam sikap, keputusan, dan perlakuan kita terhadap sesama. Ketika keadilan dan kebenaran mulai "mengalir" dalam hidup kita seperti sungai yang tidak pernah kering, maka seluruh hidup kita menjadi pujian yang didengar oleh Tuhan. Pada akhirnya, sadarilah bahwa Tuhan tidak hanya menilai bagaimana kita menyembah di tempat kudus, tetapi bagaimana kita hidup di dalam keseharian kita. Jika setelah ini ibadah kita masih tidak mengalir menjadi kejujuran, belas kasih, dan integritas di "pasar" kehidupan kita, mungkin yang perlu dibenahi bukan liturgi kita, melainkan hati kita. [LS]