Sadarkah Anda, pertumbuhan relasi tidak pernah terjadi di zona nyaman. Selama relasi hanya menuntut sedikit kesabaran, sedikit pengorbanan, dan sedikit penyangkalan diri, itu artinya kita tidak pernah benar-benar bertumbuh dalam relasi. Sebab kasih yang Yesus ajarkan selalu menuntut lebih dari yang ingin kita berikan, dan inilah yang dapat kita sebut sebagai "uncomfortable love" atau kasih yang "tidak nyaman" namun membentuk pribadi kita dan menumbuhkan relasi kita dengan sesama.
Yesus memberi perintah baru kepada kita, yaitu supaya kita saling mengasihi; sama seperti Yesus telah mengasihi kita demikian pula kita harus saling mengasihi (Yoh 13:34). Standard kasih yang Yesus tetapkan bukanlah kasih yang bersyarat, timbal balik, atau bergantung pada kenyamanan pribadi. Kasih Kristus adalah kasih yang berinisiatif, berkorban, dan rela menanggung hargaâbahkan ketika objek kasih belum layak menerimanya. Seperti yang dikatakan Rasul Paulus bahwa Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa (Roma 5:8). Jadi, kasih kita kepada sesama seharusnya tidak bergantung pada kondisi atau perasaan, melainkan karena anugerah Allah yang terlebih dulu mengasihi kita, dan karena itulah kita dimampukan untuk taat, "Jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi." (1 Yoh. 4:11). Namun kasih seperti ini hampir selalu tidak nyaman (uncomfortable love). Mengasihi berarti berhadapan dengan perbedaan karakter, sudut pandang, latar belakang, bahkan gesekan. Ketika kita bersedia merendahkan hati, belajar mendengar, dan melepaskan hak untuk selalu diutamakan, saat itulah kita bertumbuh di dalam relasi dengan sesama. Ingat, Tuhan bisa memakai orang lain untuk membentuk kesabaran, kerendahan hati, dan kedewasaan kita. Karena itu, "uncomfortable love" adalah kasih yang memurnikan. Jadi saat kita mengejar pertumbuhan dalam relasi, itu berarti kita harus bersedia keluar dari zona nyaman: belajar mengasihi tanpa syarat, menerima perbedaan dengan kerendahan hati, dan berkorban tanpa menuntut balasan. Bukan karena kita mampu, tetapi karena kasih Kristus terus bekerja dan bertumbuh di dalam kita. Inilah "uncomfortable love"âkasih yang menantang, tetapi membawa kita semakin serupa dengan Kristus dan bertumbuh dalam relasi. [LS]