Pertumbuhan rohani tak dapat dipisahkan dari semakin baiknya pengendalian diri seseorang. Saat seseorang bertumbuh kerohaniannya, ia dapat menahan perkataan, memilih ucapan-ucapan yang baik, dan tidak mengatakan segala hal dalam pikirannya. Jika kita sadar, masalah kerap muncul dalam hidup karena kita terlalu cepat berkata-kata. Hal inilah yang disebut oleh penulis Amsal sebagai kebodohan dan kecelaan. Kita ingin segera membela diri, ingin terlihat pintar, atau memenangkan argumen tanpa memberi ruang bagi hikmat Tuhan untuk bekerja.
Sebelum bulan Januari ini berakhir, mari bertumbuh di dalam tutur kata kita. Alkitab memberi banyak nasihat mengenai bagaimana kita dapat mengendalikan perkataan. Rasul Yakobus mengingatkan kita untuk cepat mendengar, tetapi lambat berkata-kata dan lambat marah. "Pause before you speak" bukan berarti kita tidak boleh berbicara; melainkan kita belajar berhenti sejenak sebelum berbicara. Dalam jeda itulah kita memberi ruang bagi Roh Kudus menuntun hati dan pikiran kita. Sebelum sebuah kata keluar dari mulut kita, ada baiknya kita menanyakan dua pertanyaan penting, yaitu: "Apakah perkataan ini membangun atau melukai?" dan "Apakah ini lahir dari emosi sesaat atau dari hikmat Tuhan?" Orang yang dewasa rohani bukanlah orang yang selalu punya jawaban tercepat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya di dalam berkata-kata. Ia tidak membiarkan emosi memimpin hidupnya, melainkan menyerahkan kendali penuh kepada Roh Kudus. Hari ini, marilah kita belajar untuk berhenti sejenak, mendengar lebih dalam, berpikir lebih bijak, dan berbicara dengan kasih. Ingat, "perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak" (Amsal 25:11). [JW]