Pentingnya kebiasaan doa, puasa, dan merenungkan Firman dapat kita lihat dalam kisah pencobaan di padang gurun. Di sini Yesus baru saja berdoa dan berpuasa selama 40 hari dan Ia langsung menghadapi pencobaan oleh Iblis. Yesus menang atas pencobaan tersebut. Sebagai orang percaya yang mengejar keserupaan dengan Kristus, maka kita pun perlu membangun kebiasaan berdoa, berpuasa, dan merenungkan Firman. Kebiasaan-kebiasaan ini bukan sekedar karena kita orang Kristen, tetapi karena ada kebenaran penting di dalamnya.
Kita paham bahwa doa adalah nafas hidup orang percaya, sebab doa merupakan sarana komunikasi kita dengan Tuhan (Mat. 6:6). Sebagai orang Kristen yang perlu terus terhubung dengan Allah, maka doa menjadi sarana penting untuk kita menyampaikan segala isi hati dan permohonan kita. Tetapi doa akan menjadi sangat dangkal dan bersifat petisi kehendak manusia jika kita tidak mengetahui apa yang harus kita doakan. Maka dari itu, dalam membangun kebiasaan berdoa, kita juga perlu membangun kebiasaan merenungkan Firman. Sebagaimana kita ketahui, bahwa Firman Tuhan berisi kehendak, kesukaan, dan janji-janji Allah (Mazmur 119:105). Bahkan dalam Firman, kita juga diajarkan cara berdoa. Maka, kebiasaan merenungkan Firman juga sangat penting untuk dibangun karena pembacaan Firman membentuk doa yang benar. Kedua, berdoa dan merenungkan firman juga penting untuk diiringi dengan kebiasaan berpuasa. Puasa bukanlah sekadar kebiasaan menahan makan, melainkan latihan untuk menyangkal kedagingan kita agar kerohanian kita semakin kuat dan semakin serupa dengan Yesus. Puasa penting untuk menjaga kebiasaan hidup kita dari kedagingan dan keinginan manusia yang tidak selaras dengan Allah, sebab manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi juga dari firman Allah (Mat 4:4). Persoalan yang kita hadapi saat ini mungkin doa kita masih salah – karena tidak diiringi pembacaan dan perenungan Firman, atau pembacaan Firman kita kering dan membosankan – karena tidak diiringi doa dan puasa, atau puasa kita hanya sekadar ikut tren atau mengikuti tema gereja – karena tidak diiringi doa dan perenungan Firman. Inilah sebabnya, kita harus membangun ketiganya. Jika Yesus saja memberi teladan membangun semua kebiasaan ini, maka kita yang adalah murid-Nya juga perlu. Percayalah, melalui kebiasaan-kebiasaan baik ini, kita akan memiliki hubungan intim dengan Tuhan dan roh kita semakin dikuatkan untuk melawan pencobaan. [JW]