Cobalah tutup mata Anda selama beberapa menit dan berjalanlah. Apa yang Anda rasakan? Begitulah kehidupan seorang yang buta sejak lahir dalam Yohanes 9. Ia hidup dalam dunia tanpa cahaya, tanpa warna, dan seakan tanpa arah. Namun di tengah keterbatasannya itu, ia mengalami perjumpaan dengan Yesus.
Banyak orang terkagum pada mukjizat yang Yesus lakukan. Namun Yohanes 9 bukan hanya kisah kesembuhan fisik, melainkan perjalanan iman seorang buta dengan mentalitas yang luar biasa dan patut kita teladani. Pertama, ia taat. Ketika Yesus menyuruhnya membasuh diri di kolam Siloam, ia tidak berdebat atau mempertanyakan motede yang tampak aneh itu. Ia pergi. Ketaatannya mendahului mukjizatnya. Kedua, ia berani bersaksi. Saat diinterogasi oleh orang-orang Farisi yang memiliki otoritas religius dan kuasa sosial, ia tidak mundur. Ia memang tidak terdidik dalam Taurat, tetapi ia memiliki satu hal yang tak terbantahkan: pengalaman pribadi bersama Yesus. Iman tidak selalu dimulai dengan pemahaman yang lengkap, tetapi dari perjumpaan yang nyata dan kesaksian yang jujur. Ketiga, imannya bertumbuh. Awalnya ia menyebut Yesus "orang yang disebut Yesus" (ay.11), lalu "nabi" (ay.17), kemudian "datang dari Allah" (ay.33), hingga akhirnya ia berkata, "Aku percaya, Tuhan", dan ia pun menyembah Yesus (ay.38). Kesembuhan fisiknya menjadi awal perjalanan pengenalan akan Tuhan yang semakin dalam. Ironisnya, yang benar-benar buta dalam pasal ini bukanlah dia, melainkan orang-orang Farisi yang merasa "melihat". Mereka memiliki pengetahuan Taurat, tetapi hati mereka tertutup bagi Terang itu sendiri. Kisah ini mengajak kita untuk melakukan refleksi sejenak, apakah kita sadar akan kebutuhan kita akan Tuhan, atau justru merasa hebat dan bisa hidup dengan kekuatan sendiri? Kebutaan rohani tidak selalu terlihat jelas. Ia sering tersembunyi dalam rasa tahu, kesombongan, dan hati yang tidak mau diajar. Kiranya kita memiliki mentalitas seperti orang yang dahulu buta itu. Ia tetap taat meski belum mengerti sepenuhnya, berani bersaksi meski diejek, dan terus bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus. Sebab terang sejati hanya dapat dilihat oleh hati yang mau mengakui kebutuhannya. [JW]