Seorang pemuda untuk pertama kalinya melayani sebagai pemimpin doa di ibadah. Tangannya gemetar. Kalimatnya tersendat. Beberapa kali ia salah mengucapkan kata. Setelah ibadah selesai, bukannya dikuatkan, ia justru menerima kritik tajam. Ada yang menertawakan caranya berdoa. Ada pula yang membandingkannya dengan pelayan yang lebih berpengalaman. Malam itu ia pulang dengan hati yang berat. Meski itu pengalaman pertamanya, ia tidak lagi memikirkan bagaimana menjadi lebih baik. Ia justru menilai dalam hati, "Mungkin aku memang tidak cocok berdoa di depan umum." Dan akhirnya ia memutuskan mundur.
Setiap kita pasti pernah "baru" dalam satu hal. Baru mempelajari teknologi, baru mulai suatu pelayanan, baru mulai pekerjaan baru, dan lain sebagainya. Saat seseorang masih "baru" dalam satu hal, adalah mungkin jika orang tersebut melakukan suatu kesalahan. Lagipula tidaklah masuk akal jika kita langsung menuntut kesempurnaan dari "orang baru" seolah-olah dia berpengalaman belasan atau puluhan tahun. Alkitab mengingatkan, "Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembutâ¦" (Gal. 6:1). Kata "pelanggaran" disini juga berarti "kesalahan" dan "kekeliruan". Caranya pun jelas, kita memulihkannya bukan dengan penghakiman atau mempermalukan, tetapi dengan roh lemah lembut. Artinya, tujuan koreksi bukan untuk mencecar atau menunjukkan siapa yang lebih benar, melainkan untuk menolong orang itu menjadi lebih baik. Lebih lanjut lagi Rasul Paulus dalam 1 Tesalonika 5:11 mengingatkan kita untuk saling menasihati dan membangun, bukan meruntuhkan atau menjatuhkan. Jadi, lain kali kita menemukan "orang baru" yang melakukan kesalahan, beri tahu dan ajarkan yang benar, agar kesalahan yang sama tidak terulang. Seseorang akan bertumbuh jika ia berada di lingkungan yang cukup aman untuk memperbaiki kesalahannya. Jika hari ini kita berada di posisi yang lebih berpengalaman, lebih senior, atau lebih matang secara rohani, ingatlah itu bukan alasan untuk menuntut tanpa empati, tetapi kesempatan untuk membimbing dengan lemah lembut. Kita pun dulu pernah belajar. Kita pun pernah salah. Dan mungkin ada seseorang yang dulu memberi kita ruang untuk bertumbuh. [EV]