Kita hidup di tengah generasi yang sibuk berbicara tentang Tuhan, tetapi sedikit yang sungguh-sungguh berdialog dengan Tuhan melalui doa. Ada yang hanya doa makan, doa tidur, dan yang sedikit lebih baik – doa saat bangun tidur. Akibatnya doa tidak lagi menjadi sarana yang membentuk batin, mengarahkan keputusan, dan menajamkan kepekaan kita terhadap kehendak Allah. Jika doa-doa kita sudah menjadi semacam formalitas, kita harus belajar dari Nehemia yang memiliki waktu terencana (intentional) dan tidak terencana (spontaneous) dalam kehidupan doanya.
Riwayat Nehemia dibuka dengan kabar yang diterimanya tentang keadaan menyedihkan orang Yahudi di Yehuda; tentang tembok Yerusalem yang terbongkar dan pintu gerbangnya yang terbakar. Ketika berita ini didengarnya, Nehemia berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah selama berbulan-bulan. Kita dapat membayangkan posisi Nehemia sebagai pejabat sipil merencanakan waktu tertentu untuk berdoa demi kesejahteraan Yerusalem di sela-sela tugas hariannya. Karena Nehemia berdoa selama berbulan-bulan, kita tahu doanya terencana, tekun, dan panjang, sampai tiba waktunya bagi Nehemia untuk menyediakan anggur bagi Raja Artahsasta. Raja memperhatikan raut wajah sedih Nehemia dan menanyakan sebabnya. Setelah Nehemia menceritakan keprihatinannya atas kondisi Yerusalem, inilah pelajaran lain yang harus kita perhatikan, "Lalu kata raja kepadaku: "Jadi, apa yang kauinginkan?" Maka aku berdoa kepada Allah semesta langit, â€Â¦". Ini tentu bukan doa panjang, ini adalah doa spontan dari hubungan yang sudah dibangun lama dengan Tuhan. Nehemia selalu memiliki cukup waktu untuk mengundang Allah di tengah keputusan penting. Inilah kebenarannya: orang yang jarang berdoa menyendiri bersama Tuhan di waktu-waktu yang terencana, tidak siap berdoa secara spontan di tengah waktu-waktu yang mendesak. Nehemia memiliki doa-doa spontan karena ia terbiasa dekat dengan Tuhan. Ia tidak panik di waktu yang krusial, sebab Tuhan sudah menjadi bagian dari pola hariannya. Inilah yang perlu kita perbaiki, sebab kita semua tidak pernah kekurangan waktu untuk berdoa. Kita hanya kurang kesadaran untuk bergantung pada Tuhan setiap hari melalui doa, terutama ketika semua hal berjalan normal sebagaimana mestinya. Mari kita lebih disiplin menyendiri bersama Tuhan di waktu-waktu yang kita rencanakan, agar kita pun menjadi orang yang "otomatis" berdoa di waktu-waktu yang mendesak. [LS]