Pernahkah Anda menemukan buah dengan warna yang begitu menarik, namun ketika dimakan rasanya justru asam? Bisa jadi warna yang memikat itu bukan tanda kematangan alami, melainkan hasil proses pengkarbitan—buah dipetik saat masih muda dan dipaksa matang sebelum waktunya. Karena tidak matang di pohon, rasa manis yang seharusnya terbentuk pun tidak sempurna.
Seperti buah yang memerlukan waktu untuk matang di pohon agar menghasilkan rasa manis sempurna, demikian pula kehidupan kita. Tuhanlah yang paling tahu waktu terbaik ketika hidup kita diproses, dibentuk, dan pada akhirnya menghasilkan buah manis yang dapat dinikmati orang lain. Raja Daud adalah contoh nyata bagi kita. Ia menunggu waktu yang panjang dari saat diurapi menjadi raja hingga benar-benar duduk di takhta raja. Ada begitu banyak proses yang harus ia lalui. Menariknya, meski Daud telah diurapi menjadi raja, ia tidak pernah berusaha mempercepat prosesnya. Daud bahkan tidak membunuh Saul kendati ada kesempatan hingga dua kali. Daud berjalan mengikuti alur dan proses yang Tuhan izinkan. Sampai akhirnya orang-orang Yehuda sendiri yang datang menobatkannya sebagai raja. Alkitab mencatat makin lama makin besarlah kuasa Daud, sebab Tuhan menyertainya. Lalu tahulah Daud, bahwa TUHAN telah menegakkan dia sebagai raja atas Israel dan telah mengangkat martabat pemerintahannya oleh karena Israel, umat-Nya. Menanti waktu Tuhan sebenarnya merupakan salah satu cara yang Tuhan pakai untuk melatih iman sekaligus ketergantungan kita kepada-Nya. Di tengah proses yang panjang, lakukanlah seperti Daud yang senantiasa meminta tuntunan Tuhan. Kita bisa menemukan kehendak-Nya melalui firman, doa, bahkan puasa. Dengan mata iman yang tertuju pada-Nya, tetaplah percaya pada waktu Tuhan dan tetaplah berpegang teguh pada janji-janji-Nya. [RS]