Alkisah, ada seorang pemilik kedai mie yang sedang melayani seorang anak kecil. Anak itu memesan sebungkus mie untuk dibawa pulang. Begitu pesanan diserahkan, anak itu langsung berlari tanpa membayar. Sang pemilik mengejarnya dan menemukan bocah itu berjongkok di sudut tersembunyi, makan mie dengan tergesa-gesa karena lapar. Seketika amarahnya berubah menjadi iba. Ia berkata, "Kalau kamu lapar, datanglah ke sini. Akan kuberikan semangkuk mie hangat." Belasan tahun kemudian, anak itu kembali sebagai orang yang telah dewasa. Setelah menikmati mie yang kini mampu ia bayar sendiri, ia bertanya mengapa dahulu sang pemilik rela memberinya makan cuma-cuma. Pemilik kedai itu tersenyum dan menjawab, "Aku memang tak mampu menolong banyak orang. Tapi jika aku bisa meringankan beban satu orang saja, maka berkuranglah satu kesusahan di dunia ini."
Kisah ini mengingatkan kita bahwa menolong sesama tidak selalu menuntut kemampuan besar, tetapi hati yang penuh belas kasihan. Sering kali kita merasa tidak sanggup karena melihat kebutuhan yang begitu luas. Namun firman Tuhan tidak pernah menuntut kita menyelesaikan semuanya sekaligus—Ia memanggil kita untuk setia pada kesempatan yang ada di depan mata. Kebaikan sederhana, ketika dilakukan dengan tulus, dapat menjadi jawaban nyata bagi satu orang yang sedang bergumul. Tuhan tidak mengukur dari seberapa besar dampaknya menurut manusia, melainkan dari kesetiaan hati kita. Menolong sesuai kebutuhan orang lain dan sesuai kemampuan kita adalah bentuk ketaatan. Dalam Injil Matius 25:40, Yesus berkata bahwa apa yang kita lakukan untuk salah seorang dari saudara-Nya yang paling hina, kita melakukannya untuk Dia. Artinya, setiap tindakan kasih–bahkan untuk satu orang–memiliki nilai rohani di hadapan Tuhan. Ketika kita mengulurkan tangan bagi sesama, sesungguhnya kita sedang menghormati Kristus sendiri. Karena itu, latihlah kepekaan setiap hari. Jangan menunggu kesempatan besar. Tanyakan pada diri sendiri, "kebaikan kecil apa yang bisa saya lakukan hari ini?", "Siapa satu orang yang bebannya dapat saya ringankan?" Lakukanlah dengan tulus, seolah-olah Anda melakukannya untuk Tuhan. Dan percayalah, Tuhan yang melihat dalam tersembunyi akan memelihara Anda dan menjadikan hidup Anda saluran berkat bagi banyak orang. [EV]