Salib merupakan momen penderitaan yang sangat berat dalam kehidupan Yesus. Dan ketika kita kembali memperhatikan kesaksian Injil, pergulatan yang sangat dalam bahkan sudah terjadi sebelum peristiwa salib, yaitu di Taman Getsemani. Tempat ini menjadi medan pergumulan rohani yang sangat berat bagi Yesus. Alkitab mencatat bahwa hati-Nya sangat sedih seperti mau mati rasanya (Mat. 26:38). Bahkan Lukas menuliskan bahwa peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang jatuh ke tanah (Luk. 22:44). Ironisnya, momen kritis ini hampir tidak disadari oleh siapa pun. Para murid yang diminta berjaga bersama-Nya justru tertidur. Mereka kurang menyadari bahwa di depan mata mereka sedang terjadi salah satu pergumulan paling berat dalam sejarah keselamatan.
Di hadapan Bapa, Yesus berdoa, "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." (Mat. 26:39). Di dalam doa ini, kita melihat inti dari pertempuran di Getsemani. Sebagai manusia, Yesus merasakan beratnya penderitaan yang akan datangâpengkhianatan, penderitaan fisik, dan terutama cawan murka Allah terhadap dosa yang akan Ia tanggung sebagai Pengganti umat manusia. Yesus bergumul dalam tekanan yang sangat berat, dan di taman inilah kemenangan pertama terjadi dalam rangkaian peristiwa "Victory Weekend". Ketika Ia berkata, "bukan kehendak-Ku, tetapi kehendak-Mu yang jadi," Yesus memilih ketaatan yang sempurna kepada Bapa. Jika di Taman Eden manusia pertama memilih kehendaknya sendiri dan membawa dosa ke dalam dunia; di Taman Getsemani, Adam yang terakhir memilih kehendak Bapa dan membuka jalan keselamatan bagi manusia. Karena itu, pergumulan Kristus di Getsemani memberi implikasi bagi kita untuk hidup dalam ketaatan yang sama. Jika kejatuhan manusia dimulai dari memilih kehendak sendiri, maka kehidupan baru di dalam Kristus ditandai oleh kerelaan untuk menundukkan kehendak kita kepada kehendak Tuhan. Di tengah pergumulan hidup, kita belajar berkata seperti Kristus, "bukan kehendakku, tetapi kehendak-Mu yang jadi." Pergumulan Kristus di Getsemani juga perlu menjadi ujian dan standar bagi penderitaan kita. Jika kita merasa telah banyak menderita bagi Allah, ingatlah kata penulis Ibrani bahwa kita belum sampai mencucurkan darah dalam pergumulan melawan dosa (Ibr. 12:4). Karena itu, ketika kita menghadapi pergumulan dan penderitaan, kita belajar taat dan juga belajar melihatnya sebagai kesempatan untuk mengambil bagian dalam persekutuan dengan Kristus. [LS]