RENUNGAN INSPIRASI
Hukuman salib adalah hukuman paling kejam dan mengerikan. Hukuman salib ditujukan bagi penjahat dengan kejahatan berat dan dilakukan di keramaian untuk memberikan efek jera dan teror mental bagi orang yang terhukum serta semua orang yang menyaksikan. Sebelum disalibkan, orang yang terhukum dipaksa untuk memikul salibnya menuju tempat eksekusi. Sesampainya di tempat eksekusi, tangan dan kaki dipakukan pada salib. Setiap orang yang disalibkan akan mengalami rasa sakit luar biasa karena paku menopang seluruh tubuh tetap tergantung pada salib, kesulitan bernafas, kehilangan darah, dan cairan tubuh. Dua ribu tahun yang lalu, Yesus Kristus mengalami semua penderitaan itu.
Penderitaan yang Ia alami telah banyak dinubuatkan dari zaman Perjanjian Lama. Melalui nabi Yesaya dijelaskan bahwa Mesias akan dihina, dijauhi, dianiaya, bahkan mati di antara para penjahat. Semua itu digenapi dalam diri Yesus—bukan karena kesalahan-Nya, melainkan karena pelanggaran dan pemberontakan kita. Ia memikul kesengsaraan yang seharusnya kita tanggung dan menanggung hukuman yang seharusnya kita terima. Oleh bilur-bilur-Nya kita disembuhkan, dan oleh darah-Nya dosa kita diampuni, serta diperdamaikan dengan Allah (Rm. 3:25). Melalui pengorbanan-Nya, tabir yang memisahkan manusia dari Allah tersingkap (Mat. 27:51-52; Ibr. 4:16), sehingga kita dapat datang kepada-Nya dan beroleh hidup yang kekal di dalam Dia (Yoh. 3:16). Semua ini menegaskan satu kebenaran yang mendalam: Yesus melakukan semuanya demi kita. Ia memikul salib yang seharusnya kita pikul, menanggung hukuman yang seharusnya kita terima, dan memberikan hidup yang tidak mungkin kita peroleh dengan kekuatan kita sendiri. Karena itu, marilah kita memandang salib Kristus dengan hati yang penuh syukur dan kasih kepada-Nya, mengingat bahwa semua yang Ia lakukan, Ia lakukan demi kita. [JA]