Dalam perjalanan Yesus menuju Yerusalem, Ia bertemu dengan Bartimeus, seorang pengemis buta yang duduk di pinggir jalan. Ketika Bartimeus mendengar Yesus lewat, ia berseru, "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku." Sebutan "Anak Daud" adalah gelar Mesias. Ini menunjukkan bahwa Bartimeus memiliki pengertian yang benar tentang identitas Yesus. Saat orang-orang mencoba menghentikannya, Bartimeus berseru lebih keras. Lalu Yesus berhenti dan meminta agar Bartimeus dipanggil. Yesus bertanya, "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Tampaknya kebutuhan Bartimeus sudah jelas, tetapi Yesus memiliki tujuan yang disengaja dalam pertanyaan-Nya itu, dan kita dapat memahaminya melalui jawaban Bartimeus, "Rabuni, supaya aku dapat melihat!" Gelar "Rabuni" merupakan bentuk yang lebih intim, kuat dan terhormat dari "Rabbi", yang berarti "guruku, tuanku". Ketika Bartimeus mengatakan ini, ia mengungkapkan kerendahan hati dan ketundukannya kepada Yesus. Permohonan spesifik Bartimeus juga menjadi contoh yang baik untuk doa kita. Saat ia katakan "kasihanilah aku", ini adalah doa yang umum tentang apa yang ia butuhkan dari Yesus, yaitu belas kasihan. Dan ketika ia katakan "supaya aku dapat melihat", doanya beralih ke permohonan khusus dan spesifik.
Kita harus mengerti bahwa iman yang dewasa bukan hanya berseru dalam doa, tetapi menyebutkan secara spesifik apa yang kita percayai. Karena iman bukan sekadar percaya bahwa Tuhan mampu, melainkan berani menyatakan dengan jelas apa yang kita harapkan dari-Nya. Bartimeus tidak menjawab samar-samar. Ia tidak berkata, "Tuhan, tolong aku." Ia berkata, "Rabuni, supaya aku dapat melihat." Ada keyakinan, sekaligus penghormatan dan ketundukan pada pribadi Yesus. Seringnya, doa kita "samar". Kita meminta berkat, tetapi tidak tahu berkat seperti apa. Kita meminta pertolongan, tetapi tidak berani menyebutkan di bagian mana kita lemah. Doa yang tidak spesifik membuat hati kita sendiri tidak fokus, dan ketika jawaban datang, kita pun tidak peka mengenalinya. Tetapi doa yang spesifik membuat kita jujur apa yang sebenarnya kita inginkan, apa yang kita takutkan, dan apa yang benar-benar kita rindukan untuk Tuhan nyatakan. Doa yang spesifik juga melatih fokus, ketekunan, dan kepekaan akan jawaban "ya", "tidak", atau "tunggu" dari Tuhan. Jadi spesifik bukan artinya memaksa Tuhan mengikuti kehendak kita. Spesifik adalah bentuk keterbukaan, kejujuran, dan pembelajaran untuk mempercayai Tuhan secara konkret. Lain kali Tuhan Yesus bertanya, "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?", biarlah kita dapat menjawab secara spesifik sebagai bentuk iman yang dewasa dan terarah kepada kuasa serta kebaikan-Nya. [LS]