Pernahkah Anda mendengar istilah "hoarding disorder"? Ini adalah perilaku menyimpan barang secara berlebihan, meskipun sudah tidak bernilai atau tidak layak pakai. Berbeda dari sekadar koleksi atau kondisi berantakan, penumpukan ini membuat tempat tinggal terasa sesak dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Gangguan ini umumnya dipicu oleh kesulitan ekstrem untuk membuang barang, bahkan dapat menimbulkan stres atau kecemasan saat harus melakukannya. Sering kali, akarnya berkaitan dengan trauma masa lalu, seperti pengalaman kekurangan atau kemiskinan, yang membentuk keyakinan bahwa semua barang perlu disimpan karena mungkin berguna di masa depan. Sayangnya, meski kondisi ekonomi membaik, kebiasaan ini tidak selalu mudah diatasi. Kita bahkan melihat orang yang sudah berkecukupan dan tinggal di rumah besar, tetapi masih memiliki kebiasaan "hoarding".
Ini adalah salah satu contoh bahwa berada terlalu lama dalam suatu kondisi dapat membentuk pola pikir dan mental seseorang â dan melepaskan diri darinya tidak selalu mudah. Bangsa Israel pernah mengalami kondisi serupa. Selama ratusan tahun hidup sebagai budakâdiatur dan diberi makanâmereka terbentuk dengan mental budak. Ketika keluar dari Mesir, mereka tidak siap hidup sebagai orang merdeka. Mereka bersungut-sungut kepada Musa dan berkata bahwa lebih baik mati di Mesir, di depan kuali penuh makanan sebagai budak, daripada mati sebagai orang bebas di padang gurun (Kel. 16:2-3). Tuhan sanggup mengubah keadaan dengan mudah; mengeluarkan kita dari "Mesir" bukanlah hal yang sulit bagi-Nya. Namun sering kali kita sendiri enggan mengeluarkan "Mesir" dari dalam diri kita. Meski situasi telah berubah, mental kita kerap masih terikat pada masa lalu. Jika ini menjadi pergumulan Anda, mintalah hikmat dan pertolongan dari Tuhan. Ambil langkah iman dan izinkan Roh Kudus menuntun Anda keluar dari "Mesir-Mesir" yang masih mengikat. Biarlah firman Tuhan membentuk cara pandang Anda, sehingga Anda semakin dimampukan hidup dalam kebebasan yang sejati di dalam Dia. [EV]