RENUNGAN INSPIRASI
Go-between adalah perantara, utusan, atau mediator yang berdiri di antara dua pihak untuk menyampaikan pesan, mendamaikan, atau menjembatani hubungan. Secara rohani, menjadi go-between adalah panggilan yang sangat dalam dan tidak ringan. Alkitab memperlihatkan bahwa kebutuhan akan perantara bukan sekadar konsep sosial, melainkan kebutuhan spiritual yang mendasar. Dosa menciptakan keterpisahan dan jurang antara manusia dengan Allah. Sejak kejatuhan, manusia tidak dapat datang begitu saja ke hadapan-Nya. Rasul Paulus menulis bahwa hanya ada satu Pengantara antara Allah dan manusia, yaitu Yesus Kristus (1 Tim. 2:5). Dialah Pengantara sejati, yang bukan hanya menyatakan Allah kepada manusia, tetapi juga mewakili manusia di hadapan Allah. Ia tidak sekadar berdiri di tengah; Ia sendiri menjadi jalan pendamaian itu. Melalui salib, Ia tidak hanya menunjukkan penderitaan, tetapi menggenapi karya penebusan yang mendamaikan manusia dengan Allah.
Perenungan ini tidak berhenti pada Kristus sebagai satu-satunya Pengantara keselamatan. Karena setelah kita ditebus, kita pun dipanggil untuk mengambil bagian dalam pelayanan pendamaian (2 Kor. 5:18-20). Artinya, dalam konteks relasional antar-manusia dan konteks representatif (ambassadorial), kita pun dipanggil menjadi go-between. Namun, perlu disadari bahwa tidak mudah menjadi orang yang berdiri di tengah – sekali pun Anda memegang jabatan tertentu di gereja. Dibutuhkan hati yang bersih, motivasi yang lurus, dan kedalaman relasi dengan Tuhan. Jika tidak, seorang go-between bisa terseret emosi, memihak karena kepentingan pribadi, atau bahkan memperkeruh keadaan. Karena itu, ketika Anda berniat atau harus menjadi seorang go-between, Anda harus lebih banyak mendengar daripada berbicara, lebih banyak berusaha memahami daripada menghakimi, serta lebih menginginkan kedamaian dan kebenaran, daripada kemenangan salah satu pihak. Sekarang mari renungkan, apakah kita benar-benar siap menjadi go-between. Apakah kita lebih sering menjadi pembawa pesan damai atau penyambung gossip? Apakah kita berdiri di tengah untuk mendamaikan atau untuk mencari panggung? Apakah kita cukup dekat dengan Tuhan sehingga bisa merepresentasikan hati-Nya ketika konflik terjadi? Semoga kita bukan sekadar hadir di tengah konflik, tetapi benar-benar dipakai Tuhan untuk membawa damai yang memulihkan. [LS]