Pernahkah Anda merasa begitu tersakiti hingga sulit untuk mengampuni? Mungkin ada ucapan yang begitu melukai hati, perlakuan yang merendahkan harga diri, dan pengkhianatan yang begitu mendalam. Perlakuan demikian bisa membuat dendam menjalar pelan-pelan, menguasai hati, hingga akhirnya kita tak mau mengampuni. Dendam yang mungkin terasa "memuaskan", tetapi pada akhirnya hanya akan memperbesar luka dan memperkeruh keadaan, serta mengalihkan fokus kita dari tujuan Tuhan yang indah dan lebih besar. Layaknya api kecil yang dibiarkan menyala, dendam yang dipelihara akan tumbuh menjadi kebakaran yang melalap bukan hanya orang lain, tetapi juga hati dan hidup kita sendiri.
Dalam bacaan Alkitab hari ini, kita mendapati kehidupan Simson yang digerakkan oleh amarah, dendam, dan harga diri yang terluka. Berawal dari kemarahan setelah dikhianati mertuanya dan orang Filistin, Simson lalu membakar ladang gandum orang Filistin. Ia bersumpah tak akan berhenti sebelum membalasnya, dan akhirnya membunuh mereka dengan kekerasan. Padahal, Simson yang sedari kandungan sudah ditetapkan menjadi nazir Allah, memang seharusnya dipakai untuk maksud penyelamatan orang Israel dari tangan orang Filistin. Sayangnya, Simson tak dipimpin oleh kehendak Tuhan, ia hanya bertindak berdasarkan amarah dan luka emosionalnya. Sungguh menyedihkan, dengan kuasa Tuhan Simson melakukannya, tetapi motivasinya jauh dari hati Tuhan, sebab karunia Tuhan ia pakai bagi kepentingan dirinya. Simson mengorbankan pekerjaan Tuhan, yang kemungkinan besar bisa lebih maksimal jika saja ia hidup dengan hati yang tenang dan damai. Dendam telah mengaburkan panggilan Allah dalam hidupnya. Kita juga bisa terjebak seperti Simson, saat kita merasa benar untuk membalas karena disakiti dan saat kita mengandalkan kemampuan kita untuk melakukan pembalasan. Dendam bukanlah cara Tuhan menyelesaikan masalah. Dari Simson kita diajar untuk tidak dikuasai oleh amarah, yang dapat menghalangi kita untuk mencapai tujuan Tuhan dan menghancurkan diri kita sendiri. Tak peduli seberapa luka kita telah disakiti, Tuhan selalu ingin memulihkan hati kita. Alih-alih membalas dendam, lebih baik kita datang kepada Tuhan, Sang Pemulih. [RS]