Di tengah kondisi ekonomi saat ini, kita alergi dengan kata "penipu". Kita marah ketika ada pejabat korup, pengusaha yang memanipulasi laporan, influencer yang menjadi "buzzer", atau oknum yang menyalahgunakan dana. Kita ingin transparansi dan sistem yang bersih. Kita menuntut integritas dari semua orang. Tetapi pernahkah kita berhenti sejenak, dan menuntut hal yang sama pada diri sendiri?
Melalui Nabi Maleakhi, Tuhan menyampaikan peringatan mengejutkan kepada umat perjanjian yang telah kembali dari pembuangan Babel, "Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku" (Maleakhi 3:8). Kita mungking berpikir bagaimana mungkin manusia menipu Allah, sedangkan Ia Allah Mahatahu. Justru di situlah ironi dosa: kita tahu Tuhan melihat, tetapi kita tetap hidup seolah-olah Ia bisa ditipu. Mereka pun bertanya tanpa rasa bersalah, "Dalam hal apa kami menipu Engkau?" Mereka menipu Tuhan dalam hal persembahan persepuluhan dan persembahan khusus. Yang lebih menyedihkan, Tuhan bukan sedang berbicara kepada bangsa kafir, tetapi kepada umat-Nya sendiri—mereka yang tetap beribadah dan tetap menjalankan ritual keagamaan. Mereka mungkin memberi (Mal. 1:7-8), tetapi tidak sepenuh hati. Mereka datang ke bait Allah, tetapi hidup mereka tidak lagi ditandai dengan kepercayaan total kepada Tuhan sebagai sumber. Itulah penipuan. Kita bisa tampak religius, tetapi kehilangan integritas di hadapan Allah yang kudus. Kita bisa tampak setia secara lahiriah, tetapi secara batin sedang menahan sesuatu dari-Nya, entah itu persembahan, ketaatan, pengampunan, atau komitmen. Kita berkata Tuhan adalah Pemilik segalanya, tetapi kita hidup dengan mentalitas bahwa keamanan sejati ada pada kendali kita sendiri. Hari ini, ketika kita dengan keras mengutuk ketidakjujuran di sekitar kita, mari kita pastikan diri berdiri dengan jujur di hadapan Allah. Adakah bagian-bagian yang kita tahan dari-Nya? Adakah komitmen yang kita longgarkan? Adakah kekerasan hati yang kita pertahankan sambil tetap menyebut-Nya, "Tuhan, Tuhan"? Kita harus kembali dengan sungguh-sungguh kepada-Nya—sebab Tuhan tidak berubah, Ia melihat, membedakan, dan pada akhirnya menyatakan siapa yang sungguh milik-Nya (Mal. 3:16). [LS]