Keselamatan adalah anugerah Allah bagi manusia. Hal itu tidak diperoleh karena usaha atau kebaikan kita, melainkan karena kasih-Nya. Namun, banyak dari kita yang kerap menganggapnya remehâkeselamatan dipandang sebagai urusan nanti. Apa yang ada di depan mata terasa lebih mendesak, sementara yang kekal dianggap belum perlu. Harta diprioritaskan daripada iman, pasangan daripada persekutuan dengan Tuhan, dan kenyamanan daripada penyangkalan diri di hadapan-Nya. Kita mungkin merasa masih memiliki waktu untuk kembali kepada Tuhan, padahal penundaan itu justru memperlihatkan hati yang belum taat dan belum sungguh-sungguh tunduk kepada-Nya.
Melalui bacaan Alkitab hari ini, Paulus menasihati agar kita tidak menyia-nyiakan kasih karunia Allahâanugerah keselamatan yang telah diberikan kepada kita. Ini bukan hanya bagi mereka yang belum percaya, tetapi juga bagi orang percaya yang masih menunda ketaatan, memelihara dosa, atau membiarkan hati terdistraksi dari Tuhan. Pertobatan bukan sekadar keputusan sesaat, melainkan anugerah yang memampukan kita untuk terus berbalik kepada Tuhan setiap hari. Tanpa kesadaran ini, hati mudah berkompromi, seolah-olah masih ada waktu. Padahal, hidup kita seperti uap yang segera lenyap (Yak. 4:14). Kita tidak perlu menunggu waktu yang "tepat" atau merasa cukup baik untuk datang kepada Tuhan. Justru hari ini adalah kesempatan bagi kita. Biarlah Roh Kudus mengerjakan dalam hati kita kerinduan untuk hidup dalam kebenaran, meninggalkan dosa, dan semakin melekat kepada-Nya. Allah tidak menuntut kesempurnaan seketika, tetapi pertobatan yang nyataâhati yang sungguh berbalik dan hidup yang terus diperbarui. Karena itu, jika hari ini kita mendengar suara-Nya, jangan keraskan hati. Waktu terbaik untuk bertobat adalah sekarang, oleh anugerah-Nya yang masih diberikan bagi kita. [SR]