Di era media sosial saat ini, tindakan berbagi sering kali dijadikan tontonan publik. Banyak orang menolong sesama sambil merekamnya dan membagikannya ke internet. Tindakan ini memicu reaksi beragam. Ada yang menyukai dan terinspirasi, ada yang merasa pemberian jadi kehilangan makna ketulusan dan tanpa pamrih, ada pula yang justru enggan menolong karena takut dicurigai memiliki motif tertentu.
Kisah orang Samaria yang murah hati mengajak kita kembali pada esensi dari kemurahan hati yang sejati. Sebelum berbicara tentang tindakan menolong, Yesus terlebih dahulu menegaskan hukum yang paling utama: mengasihi Allah dan mengasihi sesama (Luk. 10:27). Artinya, kemurahan hati yang sejati selalu berakar pada kasih. Seseorang memang bisa memberi tanpa kasih, tetapi tidak mungkin seseorang yang benar-benar mengasihi tidak memberi. Tanpa kasih, pemberian hanya menjadi sekadar formalitas atau bahkan transaksi. Yesus juga menunjukkan bahwa kemurahan hati sejati mampu menembus agenda pribadi. Imam dan orang Lewi yang melewati orang yang terluka mungkin memiliki alasan yang tampak masuk akal dalam konteks religius mereka—seperti menjaga kekudusan ritual. Namun, Yesus justru menyingkapkan bahwa alasan tersebut tidak dapat membenarkan kegagalan untuk mengasihi, karena belas kasihan adalah inti dari hukum Allah. Seperti orang Samaria yang justru berhenti dan tergerak oleh belas kasihan. Ia juga pasti memiliki agenda perjalanan, tetapi ia bersedia menanggalkannya demi menolong orang yang sedang menderita. Selain itu, kemurahan hati yang diajarkan Yesus bersifat nyata dan tepat sasaran. Ia membalut luka, memberikan pertolongan yang diperlukan, membawa orang itu ke penginapan, dan membayar biaya perawatannya. Tindakannya tepat sasaran dan lahir dari hati yang penuh belas kasihan. Karena itu, mari kita periksa kembali hati kita: apakah kemurahan hati yang kita lakukan benar-benar lahir dari kasih? Apakah kita bersedia menembus agenda pribadi kita untuk menolong sesama? Dan apakah kita mau melakukannya secara konkret dan tepat sasaran? Kemurahan hati yang sejati bukan tentang seberapa besar yang kita berikan, tetapi tentang hati yang digerakkan oleh kasih. Ketika kasih kepada Tuhan memenuhi hati kita, kemurahan hati kepada sesama akan mengalir secara alami. Kiranya Tuhan menolong kita menjadi pribadi murah hati yang penuh kasih, menembus agenda pribadi, dan tepat sasaran untuk benar-benar menjadi berkat bagi sesama. [JW]