Ada kutipan terkenal dari pemain bisbol legendaris New York Yankees bernama Yogi Berra. Ia berkata, "it ain̢۪t over till it̢۪s over" (pertandingan belum berakhir sampai benar-benar berakhir). Ungkapan ini mengingatkan para pemain untuk tidak menyerah sebelum peluit akhir berbunyi. Karena dalam banyak pertandingan, tim yang hampir kalah justru mampu "comeback" (bangkit/membalikkan keadaan) di detik-detik terakhir.
Demikian juga gambaran yang terjadi dalam rangkaian kisah Jumat Agung hingga Paskah. Ketika Yesus mati di kayu salib, para murid mengalami pukulan yang sangat berat. Harapan mereka runtuh. Mereka ketakutan, kehilangan arah, bahkan sebagian kembali ke kehidupan mereka yang lama. Bagi mereka, seolah-olah semuanya sudah selesai. Namun, berbeda dengan para perempuan pengikut Yesus. Mereka menyaksikan sendiri bagaimana tubuh Yesus dikuburkan. Mereka menyiapkan rempah-rempah dan minyak mur untuk meminyaki tubuh-Nya. Bahkan pada hari pertama minggu itu, mereka kembali datang ke kubur. Mereka datang bukan karena tahu Yesus akan bangkit. Mereka datang karena kasih dan kesetiaan kepada Guru mereka. Di tengah kesedihan dan harapan yang seakan telah mati, Allah justru berkenan menyatakan kabar yang menggemparkan kepada mereka, yaitu: Yesus telah bangkit. Dengan demikian, mereka menjadi saksi pertama dari kemenangan terbesar dalam sejarah. Saat ini mungkin ada beberapa di antara kita yang sedang berada di tengah kesedihan dan keputusasaan. Tapi dari kisah para perempuan yang setia ini, kita belajar bahwa bersama dengan Tuhan, kisah kita belum selesai. Tuhan tidak pernah berhenti bekerja. Jika dalam pertandingan olahraga kita didorong untuk berupaya sampai pertandingan benar-benar berakhir, di dalam Tuhan kita diajarkan untuk tetap setia sampai kesudahannya. Ia adalah Allah yang hidup, yang terus bekerja menghadirkan harapan baru dan mendatangkan kebaikan. Kiranya kisah Paskah ini mengingatkan kita untuk tetap beriman dan berharap kepada-Nya. [JW]