Kita sering menunggu "alasan yang cukup" untuk memaafkan. Tetapi Yesus menunjukkan sesuatu yang menantang logika kita, bahwa pengampunan tidaklah tergantung kepada orang lain, tetapi lahir dari hati yang rela melepaskan rasa sakit. Pengampunan sejati adalah tindakan yang dilakukan bahkan di saat hati kita masih terluka dan situasi belum tampak adil. Bayangkan Yesus yang tersalib, berdarah-darah, dengan nafas tersengal-sengal menahan rasa sakit dan bobot tubuh-Nya yang tertumpu di kaki dan tangan yang terpaku, karena semua penderitaan dan dosa tertumpah pada diri-Nya, dan Bapa "meninggalkan-Nya". Namun di tengah semua itu, Yesus merengkuh orang-orang berdosa tersebut dengan kasih-Nya. "Ya Bapa, ampunilah mereka", ucap Yesus sebelum menghembuskan nafas terakhir-Nya. Dalam satu kalimat itu, Yesus menunjukkan pengampunan adalah pilihan yang lahir dari hati, bahwa kasih-Nya lebih besar daripada kesalahan manusia.
Jika Yesus dalam kondisi paling menyakitkan mampu mengampuni, bukankah kita pun dipanggil untuk mengampuni? Menunda pengampunan hanya akan membuat kita terpenjara oleh luka dan rasa sakit. Hari ini, Yesus mengajak kita untuk mengampuni orang lain bukan karena mereka sudah berubah menjadi baik atau layak, tetapi karena kita mau menghidupi kasih-Nya. Karenanya, jika ada orang yang selama ini sulit kita maafkan, marilah kita mengampuninya meskipun mereka belum menyesal dan meminta maaf. Sering kali hati kita tahu apa yang benar, tetapi luka membuat kita memilih bertahan pada rasa sakit yang sudah terlalu lama kita pelihara. Padahal, Tuhan sedang mengundang kita untuk menyerahkan setiap luka kepada-Nya, agar hati kita yang lelah ini mulai bernapas kembali. Mungkin hari ini bukan tentang mereka yang berubah, tetapi tentang kita yang berani membuka hati untuk dipulihkan oleh kasih Tuhan. Kiranya doa Yesus di kayu salib menjadi doa kita, "Ya Bapa, ampunilah mereka!" Saat kita memanjatkannya dengan tulus, di sanalah luka mulai dilepaskan dan hati kita dipulihkan oleh kasih Kristus yang sejati. [RS]