Kita sering berpikir bahwa memberi adalah pilihan emosional. Jika hati tergerak, kita memberi. Jika suasana hati baik, kita berbagi. Jika melihat hal yang menyentuh, kita merasa iba lalu memberi. Tetapi ketika emosi semacam itu reda, dorongan untuk memberi pun ikut hilang. Dalam Ulangan 15:11, Tuhan berkata bahwa orang miskin akan selalu ada di antara kita, itu sebabnya Tuhan memberi perintah kepada kita untuk membuka tangan lebar-lebar, bermurah hati kepada mereka. Perhatikan bahwa Tuhan berkata, "Haruslah engkau membuka tangan." Dengan kata lain, memberi dalam perspektif Alkitab bukan sekadar respons perasaan, melainkan keharusan yang memerlukan disiplin ketaatan. Dan justru di dalam ketaatan itulah perubahan diri terjadi.
Memberi melatih hati kita tetap lembut. Tetapi ketika seseorang terus-menerus menahan, menghitung, dan mempertahankan miliknya, perlahan hatinya menjadi tertutup. Pemahaman inilah yang ingin Tuhan tanamkan dalam kehidupan umat-Nya. Itu sebabnya hukum Taurat tidak hanya berbicara tentang keadilan, tetapi juga kemurahan. Tuhan sedang membentuk umat-Nya agar memiliki karakter-Nya. Yesus sendiri mengajarkan bahwa memberi berkaitan dengan hati. Dalam Matius 6:21 Ia berkata, "Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." Dengan kata lain, memberi sama dengan memindahkan pusat hati kita. Setiap kali kita memberi bagi pekerjaan Tuhan atau bagi sesama yang membutuhkan, hati kita diarahkan kembali kepada Kerajaan Allah. Kita sedang melatih diri untuk mencintai hal-hal yang kekal. Memberi adalah alat pembentukan karakter. Memberi mematahkan belenggu keserakahan. Memberi melembutkan hati. Memberi juga menumbuhkan iman (Ams 11:25; 2 Kor. 9:10-11). Kebiasaan memberi menajamkan kepekaan terhadap kebutuhan orang lain. Dan yang paling dalam, memberi menyelaraskan kita dengan hati Kristus—Dia yang tidak hanya memberi sesuatu, tetapi memberi diri-Nya. Jadi ketika Tuhan memerintahkan kita membuka tangan lebar-lebar, sebenarnya Ia sedang membuka hati kita lebih lebar. Setiap tindakan memberi bukan hanya mengubah hidup orang yang menerima, tetapi juga mengerjakan transformasi di dalam diri kita. Kita menjadi lebih serupa dengan Allah yang murah hati. [LS]