Dalam dunia yang bergerak cepat, kesibukan dimaknai sebagai produktivitas. Pekerjaan yang menumpuk, pelayanan yang padat, tanggung jawab keluarga, semua itu memang bagian dari panggilan hidup. Namun bila tidak dijalani dengan kesadaran dan kedekatan dengan Tuhan, kesibukan itu sendiri adalah masalah. Peter Scazzero dalam bukunya "Emotionally Healthy Spirituality" menekankan bahwa kesibukan yang terus-menerus dapat menjadi gejala adanya persoalan yang lebih dalam dari kehidupan emosional dan rohani seseorang. Ketika aktivitas tanpa henti membuat kita kehilangan ruang untuk memeriksa hati di hadapan Tuhan, kesibukan berubah menjadi topeng yang menyembunyikan kondisi hati sebenarnya. Akibatnya, seseorang terlihat aktif dan produktif dari luar, tetapi mulai mengalami kekeringan di dalam hatinya. Beberapa ciri kesibukan yang tak sehat ialah hidup yang terus terburu-buru, sulit berdiam diri, merasa bersalah saat istirahat, pelayanan lebih banyak daripada kehidupan doa, dan tidak adanya waktu untuk memproses emosi serta kondisi hati.
Kesibukan sering kali bekerja seperti "silent killer" yang tanpa disadari menggerus keintiman kita dengan Tuhan. Kita hidup dalam ritme yang terlalu cepat sampai kehilangan kemampuan untuk menikmati hadirat Tuhan, mengenali diri sendiri, dan mendengar suara Tuhan. Tak sedikit pula kita memakai kesibukan untuk menghindari luka, ketakutan, dan kekosongan dalam diri. Karena itu, kita bisa terus bekerja, melayani, dan aktif, tetapi sebenarnya sedang lari dari diri sendiri dan dari Tuhan. "Doing for God without being with God", melakukan banyak hal untuk Tuhan tanpa benar-benar hidup dekat dengan Tuhan. Yesus memberi teladan hidup yang tidak tergesa-gesa. Walau banyak kebutuhan di sekitar-Nya, Yesus selalu mengundurkan diri ke tempat sunyi untuk berdoa, sebab kedekatan-Nya dengan Bapa adalah yang terutama. Bukan berarti Yesus menolak kesibukan kita, tetapi Ia tak mau kesibukan mengorbankan hubungan kita dengan-Nya. Maka, jika Yesus saja bersekutu dengan Bapa, bukankah terlebih dengan kita? Salah satu praktik yang harus kita lakukan adalah memberi ruang untuk berhenti. Kita perlu berdiam, berdoa, mengizinkan Tuhan berbicara di tengah kesunyian, merefleksikan firman-Nya setiap hari, dan jika memungkinkan mencatat setiap firman Tuhan yang merhema di hati kita. [RS]