Bacaan Alkitab hari ini mencatat satu kenyataan yang menarik. Kesetiaan bangsa Israel kepada Tuhan ternyata sangat dipengaruhi oleh siapa yang memimpin dan siapa yang menjadi saksi hidup atas karya Tuhan. Ayat ini menyatakan bahwa orang Israel tetap beribadah kepada Tuhan selama Yosua masih hidup, dan selama para tua-tua yang mengalami segala perbuatan Tuhan masih ada. Namun begitu generasi itu mati, semua ajaran dan teladan baik mereka pun ikut terkubur. Hakim-hakim 2:10 mencatat bahwa muncul generasi baru yang tidak mengenal Tuhan dan perbuatan-Nya bagi orang Israel. Meski mereka pernah mendengar tentang Tuhan, mereka tidak memiliki pengenalan yang hidup dan relasi yang nyata dengan-Nya. Mereka juga tidak mengalami secara langsung karya-karya besar Allah yang membebaskan Israel dari perbudakan dan memimpin mereka memasuki Tanah Perjanjian. Akibatnya, warisan iman yang pernah diterima tak lagi membentuk kehidupan mereka.
Sejak awal, Tuhan rindu umat-Nya mengenal Dia melalui pengalaman bersama-Nya. Dalam Ulangan 8:3, Musa menjelaskan bahwa Tuhan membiarkan Israel lapar dan memberi mereka manna supaya mereka belajar bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut-Nya. Jadi, perjalanan mereka merupakan proses supaya mereka mengalami sendiri siapa Tuhan dalam kehidupan nyata mereka. Generasi setelah Yosua mungkin mendengar cerita tentang laut yang terbelah, manna dari langit, atau tembok Yerikho yang runtuh. Tetapi pengetahuan yang tidak berubah menjadi pengalaman pribadi akhirnya hanya menjadi sejarah. Seseorang bisa tumbuh di tengah lingkungan rohani, tetapi tidak pernah mengerti apa artinya bergantung kepada Tuhan. Seseorang bisa mendengar firman setiap minggu, tetapi tidak mengenal dalamnya kasih setia Tuhan. Karena itu, kenallah Tuhan dengan cara datang kepada-Nya. Kita tidak bisa mengenal seseorang hanya dari cerita orang lain; demikian pula kita tidak dapat mengenal Tuhan tanpa datang dan berelasi dengan-Nya secara pribadi. Beri waktu khusus untuk berbicara kepada Tuhan, bukan hanya doa formal, tetapi percakapan yang nyata. Pengenalan akan Tuhan semakin nyata saat kita bukan hanya belajar firman, tetapi mulai menghidupinya, yaitu saat kita mempraktikkan firman â mengampuni, memberi, bersabar. Pengalaman dengan Tuhan juga sering kali lahir bukan di saat nyaman, melainkan di saat kita belajar bergantung. Di sanalah Tuhan sering kali memperkenalkan diri-Nya lebih dalam. Latih diri kita untuk melihat tangan Tuhan di dalam keseharian kita, seperti melalui doa yang dijawab atau kesanggupan di saat lemah. Hari ini, pertanyaannya bukan lagi seberapa banyak kita tahu tentang Tuhan, tetapi seberapa nyata hubungan kita dengan Tuhan. [LS]