Tekanan hidup Naomi sangatlah berat. Ia meninggalkan Bethlehem karena kelaparan, lalu kehilangan suami dan kedua anak laki-lakinya di tanah Moab. Ketika kembali ke Bethlehem, ia pulang tanpa harta, tanpa penopang ekonomi, dan tanpa masa depan yang jelas. Tekanan yang berkepanjangan membuat Naomi mulai menafsirkan hidupnya melalui kehilangan demi kehilangan. Saat kembali ke Bethlehem, ia berkata, "Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku." Perhatikan bahwa Naomi bukan berkata "aku sedang mengalami masa sulit" atau "aku sedang berduka", tetapi ia berkata "sebutkanlah aku Mara". Nama Naomi artinya menyenangkan, sedangkan Mara artinya pahit. Masalah Naomi bukan hanya kehilangan suami, anak, dan harta; masalah yang lebih dalam adalah ia mulai mendefinisikan dirinya berdasarkan apa yang hilang dari hidupnya. Di titik ini, tekanan telah merubah identitas.
Tekanan hidup menjadi berbahaya ketika kita mulai melihat diri kita bukan dari sudut pandang Tuhan, tetapi dari apa yang hilang dari hidup kita. Saat ini, beberapa orang mungkin kehilangan pekerjaan, usaha, penghasilan, atau orang-orang yang mereka kasihi; dan tidak sedikit pula dari mereka yang mulai kehilangan cara pandang yang benar terhadap diri sendiri. Ada yang berkata "saya selalu sial" atau "masa depan saya sudah selesai". Kita mungkin kehilangan banyak hal dalam hidup, tetapi selama Tuhan bersama kita, kita tidak pernah kehilangan yang terpenting. Seperti Naomi yang tidak sadar bahwa Tuhan masih bekerja, ia tidak sadar Rut masih berada di sisinya, ia tidak tahu Boas sudah ada di Betlehem, dan pemulihan sedang dipersiapkan melalui Obed sebagai penerus keluarga. Naomi tidak menyadari semua itu karena seluruh pandangannya dipenuhi tekanan yang dialaminya. Karena itu, berhati-hatilah. Tekanan sering kali membuat kita hanya melihat apa yang hilang, dan gagal melihat apa yang sedang Tuhan persiapkan. Di akhir kitab Rut, perempuan-perempuan Betlehem tetap memanggilnya Naomi dan berkata, "Terpujilah TUHAN, yang telah rela menolong engkau pada hari ini dengan seorang penebus." Tuhan tidak membiarkan kepahitan menjadi identitas Naomi. Di saat Naomi merasa masa depannya telah berakhir, di saat Naomi berkata "Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong TUHAN memulangkan aku"; nyatanya Tuhan tetap bekerja dan mempersiapkan pemulihan yang tak pernah Naomi bayangkan. Karena itu, jika hari ini hidupmu serasa ditekan dari berbagai arah, jangan biarkan tekanan mengubah identitasmu di dalam Tuhan. Apa yang hilang dari hidupmu tidak pernah lebih besar dari Tuhan yang masih menyertaimu. Ia belum selesai menulis kisahmu. [LS]