Dunia kita berjalan semakin cepat dan sibuk. Tanpa sadar, relasi kita pun menjadi dangkal. Kita bisa punya banyak kenalan, tapi coba lihat, pertemuan kita terasa seperti formalitas, komunikasi kita tidak dalam, bahkan terasa dingin. Di tengah realitas seperti ini, firman Tuhan memberi pesan: "Peliharalah kasih persaudaraan!" Penulis Ibrani sedang menegaskan kasih "philia", yaitu kasih persahabatan yang mendalam, kedekatan yang tulus dan hangat. Ini bukan kasih yang muncul begitu saja, melainkan kasih yang bertumbuh dari relasi yang dibangun. Karena itu, kasih persaudaraan di antara orang percaya perlu dipelihara. Kita harus bersedia saling mengenal dan rela memberi diri satu sama lain.
Itu pula sebabnya di ayat 2 kita melihat pesan yang lebih spesifik dan menantang, "Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang". Dalam bahasa Yunani, gagasan ini diterjemahkan dari kata "philoxenia", yang secara harfiah berarti "kasih kepada orang asing." Dengan demikian, kasih persaudaraan yang Tuhan kehendaki di ayat 1, tidak boleh berhenti di lingkaran orang yang sudah kita kenal atau akrab, tetapi harus meluas menjadi keramahtamahan kepada mereka yang belum kita kenal. Ini menandakan bahwa kasih "philia" di ayat 1, tidak boleh menjadi eksklusif. Kasih yang kita pelihara di dalam komunitas seperti CORE, harus mengalir keluar, menjangkau, menerima, dan memberi ruang bagi orang asing. Sebab dengan berbuat demikian, beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat (ay. 2). Sama seperti perkataan Yesus dalam Matius 25:35, bahwa ketika kita memberi tumpangan kepada orang asing, sesungguhnya kita sedang melakukannya untuk Dia. Intinya adalah, Firman Tuhan mengaitkan tindakan yang tampak sederhana dengan realitas rohani yang tidak selalu kita lihat. Kebenaran ini menyadarkan kita bahwa setiap tindakan kasih memiliki nilai di hadapan Tuhan. Kita tidak pernah tahu pasti bagaimana perasaan orang yang sedang kita layani, tetapi Tuhan tahu dan memperhitungkan setiap tindakan kasih itu. Cara terbaik untuk memenuhi perintah ini adalah dengan mencoba mengenal orang-orang yang belum kita kenal di gereja, dan menjamu mereka dengan keramahan. Sapa mereka, beri waktu untuk membuka ruang obrolan, dan mulai bagikan apa yang kita miliki. Biarlah "philia" yang kita pelihara dengan orang-orang yang telah kita kenal juga mengalir menjadi "philoxenia"—membuka ruang bagi sesama orang percaya yang belum kita kenal. Sebab kasih yang sejati bukan hanya dirawat, tetapi juga dibagikan dan disebarluaskan. [LS]