Ambisi adalah hasrat kuat untuk mencapai sesuatu. Sayangnya, banyak orang mengonotasikan ambisi sebagai hal yang negatif. Ambisi sering dianggap sebagai keinginan tanpa batas yang didorong keegoisan dan keserakahan. Ambisi lekat dengan stereotip "menghalalkan segala cara", karena orang ambisius sering dicap rela menjatuhkan orang lain demi mencapai tujuan mereka. Padahal, sebenarnya ambisi itu netral. Sifatnya menjadi negatif atau positif tergantung pada cara seseorang mencapai tujuannya, serta pada dampak yang ditimbulkannya bagi orang sekitar. Dalam Roma 15:20, Paulus mengatakan bahwa dalam pemberitaan Injil, ia menganggapnya sebagai kehormatannya. Kata Yunani yang dipakai dalam kalimat ini adalah "philotimeomai" yang secara harfiah berarti berambisi. Paulus memakai kata ini secara positif untuk menggambarkan ambisinya memberitakan Injil di tempat yang belum mendengarnya.
Kita pun perlu mengelola ambisi dalam diri kita agar menjadi kekuatan yang membangun diri sendiri dan membawa kebaikan bagi orang lain. Paulus berkata, "Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah." Kerinduan untuk memikul tanggung jawab kepemimpinan di gereja merupakan cita-cita yang baik. Tapi hati-hati, Paulus tidak menyebut jabatan penilik jemaat sebagai jabatan yang indah, melainkan pekerjaan yang indah. Fokusnya bukan lagi pada status, jabatan, atau posisi strategis dalam gereja; melainkan pekerjaan, yaitu tugas, fungsi, dan tanggung jawab yang menuntut pengorbanan, kesetiaan, dan juga ketekunan. Itulah sebabnya Paulus melanjutkan dengan detail kualifikasi penilik jemaat (ay. 2-7). Dari sini kita paham mengapa ambisi orang percaya harus selalu tunduk pada prinsip yang Yesus ajarkan: Siapa ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi pelayan (Mark. 9:35). Teolog William Barclay menjelaskan bahwa Yesus tidak menghapuskan ambisi, melainkan "menyublimkannya", yaitu mengubah wujudnya dan menyucikan. Ambisi untuk keuntungan diri sendiri, digantikan dengan ambisi untuk bisa bermanfaat bagi orang lain. Ambisi untuk menguasai, digantikan dengan ambisi untuk melayani. Dengan demikian, jika ada di antara kita yang memiliki kerinduan untuk cita-cita dan pekerjaan yang indah, jangan ragu mengakui dan mengusahakannya. Sebab kita tidak menolak dorongan alami dalam diri kita untuk maju dan berhasil, tetapi kita harus selalu menyerahkan ambisi kita di bawah ketaatan kepada Kristus. Ambisi yang dikuduskan tidak lagi membuat kita hanya ingin diakui, atau ingin menguasai; melainkan rela menempatkan diri sebagai pelayan, bahkan di tempat yang tidak kelihatan manusia. [LS]