Sebagai orang percaya, kita pasti akan menghadapi ujian ketaatan. Misalnya, tetap jujur meski harus menanggung kerugian, tetap mengampuni walau hati terluka, tetap mengasihi orang yang menyakiti kita, atau tetap berharap ketika doa belum dijawab. Pada saat-saat seperti itu, kita mungkin tidak memahami apa yang sedang Tuhan kerjakan. Akibatnya, ketaatan terasa begitu berat.
Abraham pernah berada dalam situasi yang demikian. Ketika Tuhan memerintahkannya mempersembahkan Ishak, sepintas ketaatannya tampak seperti "ketaatan buta". Namun, Ibrani 11:19 menjelaskan bahwa Abraham percaya Allah sanggup membangkitkan orang mati. Ketaatannya bukan lahir karena ia mengerti seluruh rencana Tuhan, melainkan karena ia mengenal Pribadi yang memberi perintah. Abraham percaya bahwa Allah setia pada janji-Nya dan tidak pernah gagal menggenapi firman-Nya. Karena itu, sekalipun perintah Tuhan tampak mustahil dijalani, ia tetap memilih taat. Iman tidak selalu membuat kita mengerti alasan di balik perintah Tuhan, tetapi iman selalu memberi kita alasan untuk mempercayai-Nya.
Ketaatan seperti Abraham adalah ketaatan yang berakar pada pengenalan akan Allah. Mungkin hari ini Anda sedang berada dalam situasi yang membuat iman terguncang dan bertanya-tanya apakah Tuhan benar-benar mengasihi, memedulikan, dan memegang kendali atas hidup Anda. Jika demikian, luangkanlah waktu untuk kembali merenungkan janji-janji-Nya. Biarkan Firman Tuhan mengingatkan bahwa Dia tetap setia. Kemudian, nyatakanlah komitmen untuk tetap taat karena Anda memilih percaya kepada Pribadi yang tidak pernah ingkar janji. Mintalah Roh Kudus memurnikan motivasi hati Anda, sehingga setiap langkah ketaatan lahir dari kasih dan pengenalan yang semakin dalam kepada-Nya. Ketaatan yang berakar pada pengenalan akan Allah akan tetap bertahan, bahkan ketika jalan-Nya belum kita mengerti. [RS]