Ada ironi besar dalam kehidupan manusia. Setiap orang memiliki kebutuhan untuk disayang dan diterima. Kebutuhan itu ada karena Allah memang menciptakan manusia untuk hidup dalam relasi kasih dengan-Nya dan dengan sesama. Namun sejak manusia jatuh dalam dosa, kerinduan yang baik itu dibelokkan ke arah yang salah. Kita lebih sibuk menuntut untuk dikasihi daripada belajar mengasihi. Kita mendambakan keluarga yang hangat, persahabatan yang tulus, dan komunitas yang saling menerima. Namun pada saat yang sama, kita sendiri mudah menghakimi, menyimpan kepahitan, dan lebih mementingkan diri sendiri. Martin Luther menggunakan istilah Latin "incurvatus in se"—melengkung ke dalam diri sendiri—untuk menggambarkan kondisi hati manusia setelah kejatuhan. Dosa membelokkan orientasi hidup kita dari Allah kepada diri sendiri. Kita cenderung bertanya, "Apa yang bisa saya dapatkan" daripada "Bagaimana saya bisa menjadi berkat". Bahkan ketika melakukan kebaikan sekali pun, motivasi kita sering bercampur dengan keinginan untuk dihargai, diterima, atau dibalas.
Dalam Galatia 5, Paulus meluruskan pemahaman tentang kebebasan Kristen. Setelah menjelaskan bahwa orang percaya telah dibenarkan oleh iman dan bukan oleh perbuatan hukum Taurat, Paulus memberi peringatan agar kebebasan itu tidak disalahartikan. Kebebasan di dalam Kristus bukan berarti bebas hidup sesuka hati, tetapi bebas dari kuasa dosa sehingga kita mampu hidup sesuai dengan kehendak Allah. Dulu kita diperbudak oleh dosa sehingga tidak sanggup mengasihi dengan benar. Sekarang kita dibebaskan oleh Kristus sehingga oleh karya Roh Kudus, kita dimampukan untuk mengasihi. Sebelum mengenal Kristus, ego menguasai hati kita. Setelah Roh Kudus tinggal di dalam kita, kasih menjadi buah yang mulai bertumbuh (Gal. 5:22). Kasih menjadi respons syukur karena kita telah diterima di dalam Kristus. Kita melayani karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Karena itu, kasih Kristen bukan sekadar perasaan hangat, melainkan tindakan yang lahir dari hati yang telah dibebaskan. Tidak perlu menunggu orang lain berubah atau lebih dulu mengasihi Anda. Ingat, di dalam Kristus, Anda telah menerima kasih yang sempurna. Dari kepenuhan kasih-Nya, ambil langkah nyata hari ini untuk mengampuni, melayani, dan mengasihi seseorang. Inilah kebebasan yang sejati. Kristus tidak hanya membebaskan kita dari sesuatu, tetapi juga membebaskan kita untuk sesuatu. Kita dibebaskan dari perbudakan dosa agar kita dapat mengasihi Allah dan sesama dengan hati yang baru. Semakin kita hidup dipimpin oleh Roh Kudus, semakin kita dapat merasakan bahwa kasih bukan lagi beban, melainkan buah dari hidup yang telah dimerdekakan. [LS]