Tidak semua "peperangan" dalam hidup kita dimulai oleh kita sendiri. Ada yang lahir di tengah keluarga yang penuh amarah, ada yang dibesarkan dengan favoritisme, ada yang mewarisi utang, dan ada yang tumbuh dalam pola kebiasaan buruk yang berlangsung bertahun-tahun. Meski kita tidak turut andil atas keputusan generasi sebelumnya, tetapi sering kali kita harus menghadapi konsekuensi dari keputusan mereka.
Yusuf adalah contohnya. Sejak zaman buyutnya, dosa telah membentuk pola yang terus berulang. Abraham pernah menyembunyikan bahwa Sarah adalah istrinya (Kej. 12; 20). Ishak mengulangi tindakan yang sama terhadap Ribka (Kej. 26), lalu memperlakukan Esau dan Yakub dengan favoritisme (Kej. 25). Yakub menipu ayahnya demi memperoleh berkat (Kej. 27), dan bertahun-tahun kemudian ia sendiri ditipu oleh anak-anaknya (Kej. 37:31-35). Di tengah lingkaran tipu daya, favoritisme, dan kecemburuan itulah Yusuf lahir dan dibesarkan. Ia dibenci, dijual, difitnah, dan dipenjara, karena kesalahan yang tidak pernah ia lakukan. Ia menghadapi "peperangan" yang bahkan tak pernah ia mulai. Namun, yang membedakan Yusuf adalah responsnya. Ketika Tuhan mengangkatnya menjadi penguasa Mesir, ia memiliki kesempatan untuk membalas semua kejahatan yang pernah diterimanya. Tetapi Yusuf memilih mengampuni. Ia tidak meneruskan pola dosa yang telah membelenggu keluarganya selama beberapa generasi. Sebaliknya, ia melihat tangan Tuhan yang tetap bekerja di balik setiap kesusahannya. Yusuf berkata, "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan" (Kej. 50:20).
Some battles didn't start with you. Kita tidak dapat memilih pertarungan hidup macam apa yang kita warisi dan hadapi, tetapi oleh anugerah Allah kita dapat memutuskan apa yang akan kita wariskan bagi generasi berikutnya, "peperangan" itu dapat berakhir di tangan Anda. Mungkin ada di antara kita dibesarkan dalam keluarga yang penuh luka, kebiasaan buruk, atau pola hidup yang tidak sehat. Di dalam Kristus, kita tidak lagi menjadi tawanan masa lalu. Roh Kudus memampukan kita untuk merespons dengan cara yang berbeda, sehingga apa yang selama ini menjadi siklus negatif dapat berhenti saat kita memilih taat kepada Tuhan. Ketika Anda memilih mengampuni daripada membalas, berintegritas daripada berkompromi, dan tunduk pada firman Tuhan daripada mengulangi pola lama, Anda sedang membangun warisan baru yang memuliakan Tuhan. Ketika kita setia berjalan bersama-Nya, Allah sanggup mengubah sejarah sebuah keluarga melalui satu orang yang bersedia taat kepada-Nya. [LS]