Saat hati dipenuhi kekecewaan, cara pandang kita menjadi sempit. Kita hanya melihat apa yang ada di depan mata dan tidak mampu melihat karya Tuhan yang lebih besar. Itulah yang dialami Asaf. Ia terusik oleh keberhasilan orang fasik, mempertanyakan keadilan Tuhan, bahkan merasa bahwa kesalehannya sia-sia. Semakin ia berusaha memahaminya, semakin besar pergumulannya. Namun, semuanya berubah ketika ia masuk ke tempat kudus Allah. Di sanalah perspektifnya dipulihkan. Ia mulai melihat segala sesuatu dari sudut pandang Tuhan dan dengan jujur mengakui, "Aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu." (Mzm. 73:22). Kata "dungu" (Ibr. ba'ar) menggambarkan seseorang yang kehilangan pengertian rohani sehingga tidak mampu melihat apa yang sedang Tuhan kerjakan. Asaf menyadari bahwa kepahitan dan kecemburuannya telah membutakan imannya. Setelah mengakui kebodohannya, ia menemukan sebuah kebenaran yang menghiburkan, "Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku." (Mzm. 73:23). Kasih Tuhan tidak bergantung pada sempurnanya pengertian kita. Ketika kita gagal memahami jalan-Nya, saat emosi menguasai hati, bahkan ketika kita bersikap tidak bijaksana, Tuhan tetap setia memegang tangan kita.
Jika hari ini Anda sedang mengalami kekecewaan, kebingungan, dan mempertanyakan pekerjaan tangan Tuhan, jangan pernah menjauh dari-Nya. Datanglah ke hadirat-Nya. Izinkan Ia menjamah kita, memperlihatkan area-area dalam penilaian kita yang tidak benar, dan mengubah hati kita, sebab di hadirat-Nya perspektif kita dipulihkan. Percayalah, meskipun kita tidak selalu memahami jalan Tuhan, tangan-Nya tidak pernah melepaskan tangan kita. Ia tetap memegang, menuntun, dan menguatkan setiap langkah kita hingga kita melihat penggenapan rencana-Nya. [RS]