Ketika manusia ditanya tentang tujuan hidupnya, tidak sedikit dari mereka yang menjawab, "mengalir saja." Respons ini menunjukkan bahwa kehidupan mereka dijalani tanpa arah yang jelas dan cenderung mengikuti apa yang terjadi di depan mereka. Jemaat di Kolose pun sedang menghadapi situasi yang dapat membuat mereka kehilangan arah dalam menjalani kehidupan iman. Mereka berhadapan dengan ajaran-ajaran palsu seperti filsafat manusia, peraturan-peraturan yang ketat, dan mistisisme yang dapat menjauhkan mereka dari Kristus. Karena itu, Rasul Paulus mendorong mereka untuk tidak menjalani hidup sekadar mengikuti arus, melainkan menetapkan hati pada perkara-perkara yang di atas dan menjalani hidup dengan orientasi yang jelas kepada Kristus.
Rasul Paulus mengingatkan jemaat Kolose bahwa identitas baru di dalam Kristus harus menghasilkan arah hidup yang baru. Karena mereka telah mati dan dibangkitkan bersama Kristus, maka pikiran dan kehidupan mereka tidak lagi boleh dikuasai oleh perkara-perkara duniawi, melainkan diarahkan kepada perkara-perkara yang di atas. Mereka harus memiliki keinginan, hasrat, dan aspirasi yang tertuju kepada perkara-perkara yang kekal. Demikian pula kita. Sebagai orang-orang yang telah dibangkitkan bersama Kristus, kita dipanggil untuk mencari perkara-perkara yang di atas, artinya kita menjadikan Kristus, kehendak-Nya, dan nilai-nilai Kerajaan-Nya sebagai pusat dari apa yang kita pikirkan, prioritaskan, dan kejar setiap hari. Mencari perkara di atas bukan berarti melarikan diri dari kehidupan di dunia, melainkan menjalani kehidupan di dunia dengan perspektif sorgawi. Karena itu, pekerjaan, keluarga, relasi, pelayanan, bahkan keputusan-keputusan kecil yang kita ambil seharusnya diarahkan oleh apa yang bernilai di hadapan Kristus. Jangan sampai perhatian kita terserap oleh hal-hal yang sementara hingga kehilangan arah hidup yang kekal. Pandanglah Kristus dan biarkan Dia menentukan apa yang layak kita kejar dengan waktu yang masih Tuhan percayakan kepada kita hari ini. [AP, LS]