Semua orang berhak memiliki impian. Impian memberi kita arah, semangat, dan motivasi untuk terus melangkah. Namun, seiring berjalannya waktu, kita sadar bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada doa yang belum dijawab, ada kesempatan yang hilang, dan ada impian yang harus dilepaskan. Pada saat itulah muncul pertanyaan dalam benak kita, "jika apa yang paling kita rindukan tidak pernah terwujud, tidakkah seluruh perjalanan hidup kita menjadi sia-sia?" Alkitab menolong kita melihat persoalan ini melalui kisah Musa.
Selama empat puluh tahun, Musa memimpin bangsa Israel menuju Tanah Perjanjian. Menjelang akhir hidupnya, Musa memohon kepada Tuhan agar diizinkan menyeberang dan melihat negeri yang baik itu (Ul. 3:25). Namun Tuhan, yang telah menetapkan konsekuensi atas kegagalannya di Meriba, tidak mengizinkannya (Ul. 3:26-27). Ia hanya diperbolehkan memandang negeri itu dari puncak Gunung Nebo. Dari sudut pandang manusia, akhir kisah hidup Musa terasa menyedihkan. Tetapi Musa tidak berhenti melayani ketika mengetahui kerinduannya tidak akan terwujud. Musa tetap memimpin bangsa Israel, mempersiapkan Yosua sebagai penerusnya, menyampaikan kembali hukum Tuhan, dan menguatkan umat sebelum mereka memasuki Tanah Perjanjian. Karena itulah ketika kisah hidupnya ditutup, Alkitab mengenangnya sebagai "hamba TUHAN" (Ul. 34:5). Meskipun Musa harus menanggung konsekuensi atas dosanya, ia tetap menyelesaikan panggilan yang Tuhan percayakan kepadanya. Di sini kita belajar sebuah kebenaran penting. Dalam pandangan Allah, keberhasilan bukan pertama-tama diukur dari apakah kita mencapai semua impian kita, melainkan dari apakah kita tetap setia mengikuti kehendak-Nya. Musa memang tidak pernah memasuki Tanah Perjanjian, tetapi ia mengambil bagian dalam rencana Allah yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri. Berabad-abad kemudian Musa tampil bersama Elia di gunung transfigurasi, menyaksikan kemuliaan Kristus (Mat. 17:1-3). Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa Tanah Perjanjian hanyalah bayangan dari penggenapan yang lebih besar, yaitu Kristus sendiri. Tujuan akhir karya penyelamatan Allah bukanlah wilayah geografis, melainkan persekutuan dengan Kristus Yesus. Sering kali kita berpikir jika impian kita tidak tercapai, maka artinya seluruh hidup kita sia-sia. Ketahuilah, ada kalanya Tuhan mengizinkan kita menginjakkan kaki di tujuan. Ada kalanya Ia memanggil kita untuk meletakkan fondasi yang akan diteruskan orang lain. Selama hidup kita dipimpin oleh-Nya, tidak ada satu pun langkah yang sia-sia. Karena itu, peganglah kebenaran ini, yang paling penting bukanlah apakah kita berhasil mewujudkan semua impian kita, melainkan apakah pada akhirnya kita tetap setia mengikut Tuhan ke mana pun Ia memimpin. Karena itu, lanjutkanlah hidup dengan semangat dan kesetiaan melayani Yesus. [LS]