Manusia pada umumnya menyukai kepastian, maka tidak heran jika ada banyak orang yang ingin tahu seperti apa masa depannya nanti. Namun, mengetahui bahwa sesuatu pasti terjadi tidak selalu membuat seseorang hidup dengan benar dalam menantikannya. Ada orang yang justru menyia-nyiakan hidup dengan keputusan-keputusan yang salah, seperti pergaulan bebas, kriminalitas, bermalas-malasan, atau hidup tanpa tujuan. Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Tesalonika bahwa sebagai orang-orang yang memiliki pengharapan pasti akan kedatangan Tuhan Yesus Kristus, mereka dipanggil untuk hidup dalam kewaspadaan dan penguasaan diri, sekalipun sedang menghadapi penderitaan.
Rasul Paulus mendorong jemaat di Tesalonika untuk "berjaga-jaga" (Yun. gregoreÅ), artinya terus-menerus berada dalam kondisi siap siaga. Alasan kesiagaan ini adalah karena Rasul Paulus meyakini bahwa Allah telah memanggil jemaat Tesalonika untuk masuk ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya. Maka dari itu, ia menasihati mereka supaya hidup sesuai dengan kehendak Allah. Inilah tujuan dari kesiagaan tersebut, yaitu supaya mereka tak bercacat dan kudus di hadapan Allah Bapa pada waktu kedatangan Tuhan Yesus Kristus. Secara praktis, Rasul Paulus mendorong mereka untuk sungguh-sungguh hidup dalam kekudusan, seperti menjauhi percabulan, hidup dalam pernikahan monogami yang sah, mengasihi saudara, dan berlaku sopan terhadap orang lain. Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah mempraktikkan hal-hal yang Paulus katakan, atau justru semakin nyaman dengan cara hidup yang dunia ini tawarkan? Mari periksa cara hidup kita! Jangan-jangan kerohanian kita tertidur karena terlelap oleh hingar bingar dunia ini. Bangunlah dan berubahlah! Jangan mau serupa dengan dunia ini, pegang teguh iman kita dan nyatakanlah dalam perbuatan kasih kepada sesama. Allah Bapa telah menetapkan kita untuk hidup bersama-sama dengan Dia di dalam Kerajaan-Nya, sebab pengharapan akan keselamatan kita sempurna dalam kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang kedua kali. [AP]