Pernahkah Anda meminum air yang suhunya suam-suam kuku? Rasanya tanggung, ia tidak cukup dingin untuk menyegarkan, tetapi juga tidak cukup panas untuk menghangatkan tubuh. Gambaran inilah yang dipakai Tuhan Yesus saat menegur jemaat di Laodikia. Dalam praktiknya, orang Kristen yang suam-suam kuku adalah orang yang kondisinya "serba cukup": cukup nyaman untuk berada di gereja, cukup memiliki rasa takut untuk menahan diri dari dosa-dosa besar, cukup memiliki rasa bersalah untuk seminggu sekali membuka Alkitab, dan cukup memiliki dorongan untuk berdoa saat menghadapi hari-hari berat. Orang yang suam-suam kuku tidak meninggalkan Yesus, tetapi mereka juga tidak menyerahkan hidupnya bagi Yesus. Mereka seolah menjadi orang Kristen yang "cukup" untuk terhindar dari neraka, tetapi sebagian besar waktu, uang, dan perhatian mereka digunakan untuk mencari kesenangan, kenyamanan, dan kepuasan dunia. Hati-hati jika ciri seperti ini ada dalam diri Anda, sebab jemaat Laodikia pun tidak menyadarinya. Mereka berkata, "Aku kaya, aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa". Tapi Yesus berkata, "engkau tidak tahu bahwa engkau melarat, malang, miskin, buta, dan telanjang." Mereka adalah orang yang miskin rohani, dan lebih parahnya lagi mereka buta akan kondisi mereka yang sesungguhnya. Karena itu mereka harus berhenti merasa diri mereka baik-baik saja; mereka harus berhenti mengandalkan kekayaan dan kecukupan mereka sendiri dan datang kepada Kristus untuk menerima pemulihan kondisi rohani di hadapan Tuhan. Jadi, masalah terbesar kedua dari orang suam-suam kuku adalah mereka merasa tidak kekurangan apapun. Padahal, mereka membutuhkan Kristus lebih dari apapun yang mereka miliki di dunia.
Bukan hanya terhadap jemaat Laodikia, Tuhan Yesus juga memberi "wake-up call" bagi kita semua. Ingat, Ia tidak berkenan pada kehidupan rohani yang suam-suam kuku. Ia sangat mengasihi kita, dan karena itu Ia menegur kita. Maka relakanlah hatimu dan bertobatlah! Datang kepada Tuhan dan terima pemulihan dari-Nya. Ia menjanjikan kekayaan sejati, yaitu kekayaan rohani yang jauh lebih berharga dari apapun yang dapat kita miliki di dunia; pakaian putih, yaitu hidup yang dipulihkan dan dibenarkan oleh-Nya; serta penglihatan yang baru, sehingga kita mampu melihat kehidupan dan kondisi rohani kita sebagaimana Tuhan melihatnya. Dengan demikian, teguran agar tidak menjadi suam-suam kuku merupakan panggilan bagi kita untuk berhenti merasa cukup dengan kondisi rohani kita, merelakan hati terhadap teguran Tuhan, bertobat dengan sungguh-sungguh dan datang kepada Kristus untuk menerima dari-Nya apa yang sesungguhnya kita butuhkan. [LS]