Tidak sedikit dari kita yang memiliki pengalaman melakukan kesalahan dan menyadarinya, tetapi tidak langsung menerima konsekuensi. Tidak ada surat teguran, tidak ada pemecatan, bahkan hidup berjalan seperti biasa. Dalam situasi itu, seseorang bisa menarik kesimpulan yang keliru, seperti, "mungkin kesalahan ini tidak terlalu serius", atau "mungkin Tuhan membiarkannya". Padahal, ketiadaan konsekuensi langsung bukan berarti Tuhan mengabaikan dosa kita.
Dalam Bilangan 12, Miryam dan Harun sama-sama berbicara melawan Musa dan mempertanyakan otoritas yang Tuhan berikan kepadanya. Tuhan menegur keduanya dan menyatakan bahwa mereka telah berdosa karena berbicara melawan hamba-Nya. Namun, hanya Miryam yang terkena penyakit kulit. Alkitab tidak menjelaskan secara rinci mengapa Tuhan memberikan konsekuensi yang berbeda kepada mereka. Yang jelas, ketika menyadari apa yang terjadi, Harun segera mengakui bahwa mereka telah bertindak bodoh dan berdosa, lalu memohon belas kasihan melalui Musa—orang yang sebelumnya ia kritik. Di sini kita belajar bahwa kita tidak boleh mengukur keseriusan dosa hanya dari konsekuensi yang terlihat. Ada dosa yang konsekuensinya langsung terasa, ada pula yang untuk sementara tidak tampak. Tetapi keduanya tetap merupakan dosa di hadapan Allah. Karena itu, jangan merasa aman hanya karena kesalahan kita belum diketahui orang lain, belum merusak reputasi, atau belum menimbulkan kerugian yang nyata. Kesabaran Tuhan bukan persetujuan terhadap dosa. Justru kebaikan dan kesabaran-Nya seharusnya membawa kita kepada pertobatan. Maka saat kita menyadari telah melakukan kesalahan, respons yang benar adalah segera datang kepada Tuhan dengan rendah hati, akui dosa, minta pengampunan, dan lakukan tanggung jawab untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Ingat, hati yang peka kepada Tuhan seharusnya bertanya, "Apa yang harus saya bereskan ketika Tuhan menunjukkan kesalahan saya?" Hari ini, periksalah hati Anda. Adakah sesuatu yang Anda tahu salah tetapi Anda anggap aman karena belum ada konsekuensinya? Jangan salah mengartikan kesabaran Tuhan sebagai pembiaran. Ketika Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk bertobat, jangan gunakan kesempatan itu untuk terus berbuat dosa. Gunakanlah untuk kembali kepada-Nya dengan rendah hati. [LS]