Banyak orang kehilangan penguasaan diri bukan karena mereka tidak tahu bahwa tindakannya salah, tetapi karena mereka tidak menyadari apa yang sedang terjadi di dalam diri mereka. Mereka marah, lalu berbicara tanpa berpikir. Mereka tersinggung, lalu langsung menyerang. Mereka kecewa, dan segera mengambil keputusan dalam emosi. Bahkan setelah semuanya terjadi, mereka baru berkata, "Saya tidak tahu kenapa saya bisa sampai seperti itu." Padahal sering kali masalahnya bukan pada apa yang terjadi di luar diri kita, melainkan pada sesuatu yang tidak kita kenali di dalam diri kita. Kita tidak bisa mengendalikan sesuatu yang tidak kita sadari. Karena itu, penguasaan diri dimulai jauh sebelum kita belajar menahan respons; penguasaan diri dimulai ketika kita berani memeriksa apa yang sebenarnya terjadi dalam hati kita.
Daud memberikan gambaran yang kuat tentang pelajaran ini ketika ia menghadapi Simei yang mengutuk dan mempermalukannya. Daud sebenarnya memiliki kuasa untuk membalas, tetapi ia memilih menahan diri dan berkata, "Biarkanlah dia dan biarlah ia mengutuk, sebab TUHAN yang telah berfirman kepadanya demikian. Mungkin TUHAN akan memperhatikan kesengsaraanku ini dan TUHAN membalas yang baik kepadaku sebagai ganti kutuk orang itu pada hari ini." (2 Sam. 16:11-12). Daud sengsara dengan situasi yang merendahkan dan provokatif itu, tetapi ia tidak membiarkan penghinaan itu mengendalikan responsnya. Inilah salah satu bentuk self-awareness yang menghasilkan self-control. Kita harus sadar apa yang sedang terjadi di dalam diri kita, sadar situasi seperti apa yang sedang kita hadapi, sebelum perasaan dan situasi tersebut mengendalikan respons kita. Salomo mengingatkan, "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan" (Ams. 4:23). Artinya, sebelum kita mampu mengendalikan apa yang keluar dari diri kita, kita perlu menyadari dan memperhatikan apa yang sedang terjadi di dalam hati kita. Apa yang tidak kita sadari di dalam hati, sering kali akhirnya mengendalikan perilaku kita. Perhatikan, kita bukan menolak emosi, tetapi kita mampu menyadari emosi sebelum diperbudak olehnya. Karena itu, di dalam belajar mengendalikan diri, belajarlah terlebih dahulu untuk mengenali diri. Saat muncul emosi marah, tanyakan, "Apa yang sebenarnya melukai saya?" Saat merasa tersinggung, tanyakan, "Mengapa perkataannya begitu memengaruhi saya?" Saat ingin membalas, pikirkan, "Apakah saya menegakan keadilan, atau sedang ingin melampiaskan ego?" Bawalah jawaban yang jujur kepada Tuhan, karena self-awareness di hadapan Tuhan bukan hanya membuat kita semakin mengenali diri sendiri, tetapi juga membawa kita pada pertobatan dan perubahan. Ingat, orang yang dewasa bukanlah orang tanpa emosi, melainkan orang yang cepat menyadari apa yang sedang terjadi di dalam dirinya dan membawa responsnya di bawah kendali Tuhan. [LS]