Pernahkah Anda merasa harus berjuang sendirian di tengah lingkungan yang tidak mendukung nilai-nilai yang Anda pegang? Entah ketika harus berusaha mempertahankan kejujuran di tempat kerja yang penuh kompromi, mempertahankan iman di tengah keluarga yang belum percaya, atau ketika harus memutuskan keputusan yang tidak populer dan seolah tidak dimengerti siapa pun. Ketika merasa tidak memiliki teman sejalan, kelelahan fisik dan emosional dapat menguasai kita. Kita mulai berpikir bahwa hanya kita yang peduli pada nilai-nilai yang penting, sehingga perjuangan terasa sia-sia dan kita tergoda untuk menyerah.
Kondisi inilah yang dialami Nabi Elia. Setelah mengalami kemenangan besar atas para nabi Baal, ancaman Izebel membuatnya ketakutan dan melarikan diri hingga ke Gunung Horeb. Di sana, Elia mengeluh kepada Tuhan dan merasa bahwa hanya dirinya seorang yang masih setia. Namun, Tuhan menolong Elia melihat bahwa perasaannya tidak menggambarkan seluruh kenyataan. Tuhan masih memelihara 7.000 orang di Israel yang tidak menyembah Baal. Tuhan juga memberikan Elia tugas baru untuk dikerjakan. Elia memang sedang merasa sendirian, tetapi ia tidak pernah benar-benar sendirian. Tuhan tetap hadir, Tuhan tetap bekerja, dan Tuhan masih memiliki umat yang setia. Kisah ini mengingatkan kita untuk tidak membiarkan perasaan sepi menentukan bagaimana kita melihat keadaan. Ketika merasa sendirian dalam memperjuangkan kebenaran, jangan menarik diri dan memikul semuanya seorang diri. Datanglah kepada Tuhan, bukalah hati kepada-Nya, dan carilah persekutuan dengan orang-orang percaya yang dapat berjalan bersama. Kita dapat percaya bahwa Tuhan tidak meninggalkan kita sendirian, dan pekerjaan-Nya tidak pernah bergantung pada kita seorang diri. [EB]