Belakangan ini, Indonesia bahkan dunia dihadapkan dengan berbagai bencana alam. Pada bulan September lalu, erupsi gunung berapi bahkan menimbulkan dampak yang terasa sampai ke berbagai kota, termasuk Jakarta. Situasi seperti ini sering membuat orang panik dan segera mencari cara untuk melindungi diri. Kita melihat orang melakukan "panic buying" masker, sama seperti yang pernah terjadi pada masa pandemi ketika orang menimbun masker hingga sembako karena takut kehabisan. Kita cenderung bereaksi ketika ancaman sudah terlihat dan terasa nyata. Tetapi bagaimana dengan kehidupan rohani kita? Apakah kita juga baru sungguh-sungguh mencari Tuhan ketika keadaan mulai mengancam, ketika masalah datang, atau ketika kita merasa bahwa sesuatu yang buruk sudah berada di depan mata?
Bacaan Alkitab hari ini menggambarkan sesuatu yang dapat kita sebut sebagai "panic faith". Lima gadis yang bodoh tidak mempersiapkan minyak untuk menyambut kedatangan mempelai pria. Ketika mempelai datang, barulah mereka menyadari bahwa mereka tidak siap. Mereka pergi membeli minyak, tetapi ketika kembali, pintu sudah tertutup. Mereka terlambat. Panic faith adalah pola hidup di mana seseorang baru sungguh-sungguh mencari Tuhan, bertobat, dan memperbaiki hidupnya ketika krisis sudah datang atau ketika ia merasa waktunya sudah hampir habis. Selama keadaan baik-baik saja, kehidupan rohaninya dijalani dengan santai. Namun ketika ancaman datang, ia mulai berdoa dengan sungguh-sungguh, berjanji akan berubah, dan kembali mendekat kepada Tuhan. Sayangnya, ketika rasa takut itu mereda, kehidupannya pun perlahan kembali seperti semula. Kita harus ingat bahwa kita dipanggil untuk senantiasa berjaga-jaga, bukan karena kita tahu kapan Tuhan Yesus akan datang, tetapi justru karena kita tidak tahu kapan Dia akan datang. Kedatangan Kristus bukan sesuatu yang boleh kita anggap jauh atau sepele. Karena itu, jangan menunggu masalah besar untuk mulai serius dengan Tuhan. Jangan menunggu kehilangan untuk belajar menghargai Tuhan. Jangan menunggu detik-detik terakhir untuk bertobat. Berjaga-jaga berarti hidup hari ini dengan kesadaran bahwa Kristus dapat datang kapan saja. Jangan sampai ketika waktunya tiba, kita baru sadar bahwa selama ini kita hidup terlalu santai. [JW]